BREAKINGNEWS.CO.ID – Pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B Kotjo untuk dihukum empat tahun pidana penjara dan denda Rp250 juta subsidair enam bulan kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi terkiat kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1.

Dalam tuntutannya, JPU menyeburkan jika Johannes dengan sangat menyakinkannya terbukti telah menyuap mantan wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulana Saragih dan Mantan Menteri Sosial Idrus Marham untuk mendapatkan proyek PLTU Riau-1. "Kami menuntut supaya Majelis Hakim menjatuhkan putusan yang menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan korupsi," kata Jaksa Ronald Ferdinand Worotikan saat membacakan surat tuntutan terhadap Johannes Kotjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/11/2018).

Dalam menjatuhkan tuntutan ini, Jaksa KPK mempertimbangkan sejumlah hal. Jaksa KPK menilai, perbuatan Johannes Kotjo tidak mendukung pemerintah dalam memberantas korupsi sebagai hal yang memberatkan tuntutan. Sementara untuk hal yang meringankan, Jaksa KPK menilai Johannes Kotjo telah berlaku sopan, belum pernah dihukum, kooperatif, mengakui kesalahan, dan berterus terang.

Setelah mendengar tuntutan Jaksa, ‎Johannes Kotjo akan mengajukan pleidoi atau nota keberatan pada persidangan selanjutnya yang digelar pada Senin (3/12) mendatang.

Diketahui, Jaksa mendakwa Johannes Kotjo telah menyuap Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham sebesar Rp 4,75 miliar. Suap tersebut diberikan agar Eni dan Idrus membantu perusahaan Kotjo untuk mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP)‎ PLTU Riau-1. Proyek tersebut rencananya digarap PT Pembangkitan Jawa Bali Blackgold Natural Resources Limited, dan China Huadian Engineering Company.

Proyek PLTU Riau-I sendiri masuk dalam proyek 35 ribu Megawatt yang rencananya bakal digarap Blackgold, PT Samantaka Batubara, PT Pembangkit Jawa-Bali, PT PLN Batubara dan China Huadian Engineering Co. Ltd.

KPK sudah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus dugaan suap ini, mereka di antaranya Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir, serta Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa-Bali Investasi Gunawan Y Hariyanto. Kemudian Direktur Utama PT Pembangunan Jawa Bali (PJB) Iwan Agung Firstantara dan Direktur Utama PT Samantaka Batubara Rudi Herlambang.

Pemeriksaan terhadap mereka untuk mendalami kongkalikong PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) dengan petinggi PT PLN terkait penunjukan langsung perusahaan Blackgold, PT Samantaka Batubara, PT Pembangkit Jawa-Bali, PT PLN Batubara dan China Huadian Engineering Co. Ltd menjadi satu konsorsium yang menggarap proyek tersebut.

Apalagi, dari balik jeruji besi, Eni Saragih sempat mengungkap peran Sofyan Basir dan Kotjo sampai PT PJB menguasai 51 persen asset. Nilai asset itu memungkinkan PT PJB menunjuk langsung Blackgold sebagai mitranya.

Pada Januari 2018, PJB, PLN Batu Bara, BlackGold, Samantaka, dan Huadian menandatangani Letter of Intent (LoI) atau surat perjanjian bisnis yang secara hukum tak mengikat para pihak. LoI diteken untuk mendapatkan Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (PPA) atas PLTU Riau-1. Samantaka rencananya akan menjadi pemasok batu bara untuk PLTU Riau-1.