BREAKINGNEWS.CO.ID - Ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang telah berakhir pada Rabu (27/6/2018) masih menyisakan sejumlah kenangan bagi masing-masing partai politik (parpol), terutama parpol yang mengusung pasangan calon kepala daerah. Seperti halnya di Pilgub Sulsel kali ini, pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman yang diusung oleh PKS unggul dari pesaingnya pada hitung cepat sejumlah lembaga survei. Namun, hal berbeda justru dialami oleh Partai Gerindra. Partai berlambang kepala burung garuda tersebut telah dua kali mengusung kadernya di pilkada provinsi.

Pada Pilgub Sulsel 2013 Gerindra mengusung pasangan Andi Rudianto Asapa-Andi Nawir Pasinringi kalah dari pesaingnya. Nasib yang sama juga terjadi d Pilgub Sulsel 2018, pasangan Agus Arifin Nu’mang-Ahmad Tanribali Lamo juga mengalami kekalahan. Meski beruntun mengalami kekalahan di dua kali ajang Pilgub tersebut, namun partai yang digawangi oleh Prabowo Subianto itu nampaknya tak mau menyerah begitu saja. Bahkan, partai tersebut mengaku siap mengadu keberuntungannya di Pemilu yang akan berlangsung pada 2019 mendatang. Kekalahan usungan Gerindra di Pilgub tentu akan menjadi bahan evaluasi dari partai. “Evaluasi tentu ada, di mana titik kekurangan dan lainnya,” ujar Sekretaris DPD Partai Gerindra Sulsel Rusdin Tabi, Jumat (29/6/2018).

Kendati demikian, dirinya mengaku salut dengan kinerja tim dan kader partai yang terus bergerak hingga usungannya di pilkada serentak hampir memenangkan hampir keseluruhannya menang. “Meski tak unggul di Pilgub, tapi kita kan sudah berjuang untuk memenangkan usungan di 9 daerah, termasuk tiga diantaranya kader, sementara pada PIlkada sebelumnya usungan gerindra menang di 8 daerah” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD Gerindra Sulsel Andi Idris Maggabarani mengatakan jika dirinya berharap dengan hasil pilkada serentak kali ini semakin dapat memberikan motivasi bagi kader untuk lebih bekerja secara maksimal dalam menyambut Pileg dan Pilpres yang akan datang. “Kita yakin hasil ini (Pilgub dan Pilbup) menjadi motivasi kader disemua level,” jelas Idris.

Dosen politik Unismuh Makassar Dr Luhur A. Prianto mengatakan jika kekalahan secara beruntun yang dialami oleg Gerindra tersebut tentu akan menjadi motivasi dan semangat bagi pengurus dan kader. Menurutnya, secara institusi, Gerindra memang perlu merecovery diri. “Pelajaran di Pilgub ini, kerja-kerja elektoral struktur partai ada yang tidak sejalan antara DPD dan DPC. Mesin partai seperti tidak bergerak optimal,”ujar Luhur.

Selain itu, ia juga mengatakan jika idealnya momentum tersebut harus di manfaatkan untuk mengkonsolidasi infrastruktur partai. hal ini juga termasuk soal mengevaluasi komitmen serta loyalitas elit dan kader partai tersebut terhadap keputusan partai. Ia pun berpendapat jika banyak akder Gerindra yang tidak mendukung usungan partainya. “Saya kira sistem dan prosedur rekrutmen usungan calon kepala daerah juga mesti di evaluasi,” katanya.

Gerindra juga termasuk partai yang tidak punya mekanisme baku dan tidak tuntas menata kewenangan DPP dan DPD dalam melakukan perekrutan dan pencalonan kepala daerah. “Ketokohan figur memang penting, tetapi soliditas partai pengusung juga hal menentukan,” pungkasnya.

Senada dengan Luhur, dosen politik Unibos 45 Dr Arief Wicaksono juga menilai jika ada masalah pada tubuh partai tersebut yang hingga saat ini tidak terselesaikan. Kendati demikian, dirinya melihat trend suara Gerindra terus membaik jelang berlangsungnya pemilihan legislatif yang akan digelar pada 2019 mendatang. “Saran saya agar sebaiknya Gerindra Sulsel melakukan konsolidasi internal, agar pada level pemilihan berikutnya (pileg dan pilpres) Gerindra Sulsel dapat menepis anggapan negatif dari masyarakat dan media,”pungkasnya.