BREAKINGNEWS.CO.ID - Kondisi kerusakan hutan di dunia kian mengkhawatirkan. Deferostasi lahan yang seakan tak pernah habis, menjadi faktor utama banyaknya kerusakan hutan di berbagai belahan dunia.

"Kita (Indonesia) yang dikenal sebagai paru-paru dunia, yang memiliki jutaan hektar hutan harus ikut serukan reboisasi," kata aktivis kehutanan, Nirmala Ratimanjari, Kamis (30/5/2019).

Nirmala berpendapat jika saat ini kondisi lahan hutan kini semakin berkurang. Banyak pohon yang ditebang guna keperluan manusia maupun kepentingan industri yang tentunya mengharuskan lahan sebagai tempat produksi. Akibatnya, menimbulkan kerusakan hutan yang cenderung meningkat.

"Deforestasi dan degradasi yang disebabkan manusia membuat hutan lebih rentan terhadap kebakaran, dan penyakit. Serta, kekeringan yang terkait dengan perubahan iklim berbahaya cenderung membunuh pohon dalam jumlah yang lebih besar," ujarnya.

Bahkan, lanjut Nirmala, tingkat deforestasi global telah melambat lebih dari setengah dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Tetapi, hutan mengalami kehilangan pohon melonjak sebesar 50 persen pada tahun 2016 dan tahun 2017. "Kemungkinan, hal ini kian menjadi lebih buruk bagi kondisi hutan di dunia," jelasnya.

Nirmala juga menambahkan, dalam dua tahun, jutaan hektar hutan telah terbakar habis di Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia dan Eropa. Beberapa kebakaran liar tersebut disebabkan oleh banyaknya polusi dan akibat lain yang lebih parah yakni ulah tindakan manusia yang sering merusak alam.

Begitu juga yang terjadi di Indonesia. Kebakaran hutan terjadi hampir disetiap tahunnya. Mayoritas kebakaran hutan tersebut terjadi di lahan gambut.

Analisis data riwayat kebakaran di Global Forest Watch Fires menegaskan bahwa kebakaran cenderung terkonsentrasi pada konsesi pertanian dan lahan gambut di Indonesia.

Sebagian besar kebakaran di Indonesia disebabkan oleh manusia. Hutan negara dan lahan gambut (lanskap yang kaya karbon dan digenangi air menjadi pilihan populer untuk ekspansi pertanian) terlalu lembap untuk menjadi penyebab terjadinya kebakaran secara alami. Oleh karena itu, lahan seperti ini biasanya secara aktif dikeringkan dan dibakar untuk digunakan sebagai lahan pertanian atau untuk mengusir warga ketika terjadi sengketa lahan.