BREAKINGNEWS.CO.ID - Walikota Jakarta Selatan Marullah Mattaliti mengatakan program magrib mengaji merupakan upaya menghidupkan kembali tradisi keagamaan yang mulai terkikis dengan perkembangan zaman.

Program ini tentunya menyasar para remaja karena selama ini tidak sedikit remaja berkeliaran atau justru berkumpul saat magrib tiba di pinggir-pinggir jalan. Harapannya bisa mengubah pola pikir remaja supaya ke masjid saat magrib tiba.

“Saya meyakini mereka berasa di tempat aman, kemungkinan-kemungkinan terkontaminasi perilaku yang kurang baik misalnya, kalau mereka maghrib-magrib masih ada di perempatan jalan apalagi anak-anak kampung,” ujar Marullah.

Mengingat program tidak menggunakan APBD maka tiap kelurahan untuk satu bulan hanya perlu mengeluarkan dana sebanyak Rp500.000. Dana itu digunakan sebagai pembayaran terhadap guru mengaji yang mana dalam satu bulan dilakukan empat kali pertemuan.

“Masing-masing kelurahan boleh jadi menggunakan guru ngaji yang ada di lingkup situ, diberdayakan, dengan anggaran yang dimiliki oleh kelurahan, boleh jadi rutin, boleh jadi tidak rutin, enggak masalah. Tapi mereka sudah punya anggaran,” paparnya.

Sebelumnya Kepala Biro Pendidikan, Mental, dan Spiritual (Dikmental) DKI Jakarta Hendra Hidayat mengatakan program mengaji maghrib bukan merupakan instruksi dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan. Ia menyebut kegiatan itu sudah berlangsung lama sejak tahun 2018 lalu dan baru diterapkan di Jakarta Selatan.

“Ini bukan program Pemprov jadi ini tidak ada Ingub (instruksi gubernur), tidak ada perintah pak gubernur jadi semuanga dikembalikan ke kesadaran warga masyarakat masing-masing,” ujar Hendra di Balaikota Jakarta, Jumat (11/1/2019).