BREAKINGNEWS.CO.ID – Proses repatriasi (kembalinya suatu warga negara dari negara asing yang pernah menjadi tempat tinggal menuju tanah asal kewarganegaraannya) Rohingya ke Myanmar dibatalkan, para pengungsi Rohingya di kamp penampungan Bangladesh memanjatkan doa syukuran.

"Kami berdoa kepada Allah atas keselamatan kami. Doa kami dikabulkan. Kami berterima kasih kepada otoritas Bangladesh atas pengertian mereka terhadap posisi kami mengenai repatriasi," ujar seorang pengungsi Rohingya, Imam Hossain. Senada dengan Hossain, seorang pengungsi lainnya bernama Abdul Hamid berkata, "Kami sangat senang pemulangan itu tidak berlangsung."

Akan tetapi, perasaan campur aduk berkecamuk di dalam diri pengungsi Rohingya yang lain, Abdul Malek. Walaupun senang tidak jadi dipulangkan, tetapi Malek sebenarnya juga ingin bertemu dengan orang tuanya yang tidak diketahui lagi kabarnya sejak dia kabur dari Rakhine, Myanmar, pada Agustus 2017 lalu.

"Saya belum bertemu orang tua saya selama lebih dari satu tahun. Saya ingin bertemu mereka, tetapi saya merasa belum cukup aman untuk kembali," tutur Malek seperti dilansir AFP, Jumat (16/11) lalu. Malek pun mengaku ingin akan kembali ke Rakhine apabila sudah ada jaminan dari pemerintah Myanmar kalau para pengungsi Rohingya akan diberikan kewarganegaraan. Selama ini, Rohingya memang tidak pernah dianggap sebagai warga negara walaupun sudah tinggal selama beberapa generasi di Myanmar.

Dijuluki imigran gelap dari Bengali, Rohingya pun menjadi sasaran empuk segala bentuk persekusi oleh warga Myanmar, mulai dari pemerkosaan, pembunuhan, hingga pembakaran rumah. Gelombang kekerasan terbaru pecah pada Agustus 2017 lalu. Bentrokan itu merenggut setidaknya 1.000 nyawa dan memaksa 720 ribu orang Rohingya kabur ke Bangladesh. Myanmar dan Bangladesh sendiri sebenarnya sudah meneken kesepakatan untuk memulangkan Rohingya mulai Kamis lalu, tapi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap kondisi di Rakhine belum kondusif.