MOSKOW – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada hari Jumat (11/8/2017) bahwa resiko konflik militer mengenai program nuklir Korea Utara sangat tinggi. Moskow sangat khawatir dengan ancaman bersama yang diumbar oleh Washington dan Pyongyang.

“Sayangnya retrorika Washington dan Pyongyang sekarang sudah berada di posisi puncak, kami masih berharap dan percaya bahwa akal sehatlah yang akan menang,” kata Lavrov.

Ketika ditanya di sebuah forum untuk siswa Rusia, terhadap resiko meningkatnya konflik bersenjata, dia mengatakan bahwa resikonya sangat tinggi, terutama dengan mempertimbangkan retrorika kedua pemimpin negara, seperti dikutip Reuters, Sabtu (12/8/2017).

Ancaman langsung penggunaan kekuatan sudah terdengar. Pembicaraan (di Washington) adalah bahwa harus ada serangan preventif yang dilakukan di Korut.  Sementara Pyongyang mengancam untuk melakukan serangan rudal ke pangkalan AS di Guam. Ancaman ini disuarakan tanpa henti dan sangat mengkhawatirkan.

”Saya tidak akan menebak apa yang terjadi ‘jika’. Kami akan melakukan apapun untuk mencegah ‘jika’ ini. Pendapat pribadi saya adalah ketika Anda mendekati titik pertempuran yang pecah, sisi yang lebih kuat dan pandai harus mengambil langkah pertama di ambang bahaya,” kata Lavrov yang disiarkan stasiun televisi pemerintah.

Dia mendorong Pyongyang dan Washington untuk menandatangani sebuah rencana gabungan yang dirancang Rusia dan China, di mana Korut akan membekukan uji rudalnya dan AS serta Korea Selatan akan memberlakukan moratorium latihan militer berskala besar.

“Jika pembekuan ganda ini akhirnya terjadi, maka kita bisa duduk dan mulai dari awal, untuk menandatangani sebuah lembaran yang akan menekankan penghormatan terhadap kedaulatan semua pihak yang terlibat, termasuk Korut,” imbuh Lavrov. (agn)