BREAKINGNEWS.CO.ID -  Maskapai penerbangan tanah air diharapkan segera menurunkan harga tiket pesawat begitu harga avtur turun. Mengingat komponen bahan bakar ini menjadi salah satu pos terbesar  dari keseluruhan operasional penerbangan.

"Kalau harga avtur turun otomatis komponen biaya tadi berpengaruh. Seharusnya mereka melakukan penyesuaian kembali," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti  di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Polana menjelaskan pengaruh harga avtur ke harga tiket, yaitu sebesar 24 persen berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 14 Tahun 2016, selain faktor lain, yaitu nilai tukar dan biaya jasa terkait.

"Itu tahun 2016 dengan asumsi harga pada 2015 hingga 2016 awal dengan asumsi tingkat keterisian 65 persen," katanya.

Sementara itu, dalam kajian maskapai harga avtur menyumbang sekitar 40 persen dari biaya operasional, karena itu Polana menilai perlu adanya kajian ulang terhadap komponen yang mempengaruhi tarif dasar maskapai. Untuk itu, pihaknya juga akan memanggil perwakilan maskapai untuk menghitung kembali tarif tersebut.

“Direktur Angkutan udara juga sudah lakukan rapat dengan maskapai soal tarif, saya tidak bisa bilang sekarang karena harus ada pengkajian dari badan penelitian dan pengembangan,” katanya.

Selain itu, dia juga sudah melakukan rapat dengan Pertamina Aviasi dan ada sejumlah komponen yang potensi bisa diturunkan.  "Mereka menyampaikan bahwa harga avtur mereka sudah kompetitif, tetapi ada beberapa komponen harga yang bisa diturunkan. Itu bukan kewenangan kami," kata Polana.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah bersedia mengkaji besaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas avtur agar setara dengan negara-negara lain mengingat masalah tersebut dituding sebagai penyebab tingginya harga tiket pesawat. "Kalau penerapan PPN itu adalah sama, kita akan berlakukan sama. Jadi kita lihat supaya kita tidak ada kompetisi tidak sehat antara Indonesia dengan yang lainnya," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan membandingkan PPN avtur di Indonesia dengan tarif di negara-negara lain. Tarif PPN ini sebelumnya dikeluhkan oleh dunia usaha karena diduga menjadi beban yang dikonversikan oleh maskapai penerbangan ke harga tiket pesawat.

"Kalau itu sifatnya adalah 'level of playing field', kita bersedia untuk membandingkan dengan negara lain, dengan Singapura, Malaysia," ujar dia.

Adapun, saat ini, PPN atas transaksi avtur untuk keperluan angkatan udara di Indonesia sebesar 10 persen. Tarif PPN tersebut sudah dibebankan sejak 2003. Sedangkan, tarif PPN atas penyerahan avtur di negara-negara tetangga di Asia Tenggara, masih berkisar satu digit.