BREAKINGNEWS.CO.ID - Persoalan resepsi pernikahan Adams Perkasa Adi Kuasa - Clarissa hingga bermuara ke jalur hukum dengan ayah kandungnya, Ello Hardiyanto berawal dari dimuatnya acara tersebut oleh Majalah  Indonesia Tatler pada edisi Maret 2017, baik versi cetak maupun online. Majalah itu menampilkan foto mempelai Adams dan Clarissa bersama ‘orangtua’ mereka, tetapi dalam foto itu tidak tampak Ello Hardiyanto dan Gina. 

"Pemuatan berita itu memantik persoalan. Akibatnya, banyak teman dan relasi Ello yang menanyakan hal itu kepada Ello dan Gina. Awal Mei 2017," kata pengacara Ello, Albert Kuhon saat dikonfirmasi, Jumat (30/11/2018).

Dari situ, Ello Hardiyanto menyurati Redaksi Indonesia Tatler, meminta mereka mengoreksi kekeliruan   majalah   itu. Pihak   redaksi   mengaku salah, minta   maaf   dan   menjanjikan   mengoreksi kesalahan mereka. Ello minta agar hak jawab dan hak koreksi itu dimuat secara proporsional, pada halaman dan rubrik yang sama, sebagaimana ditetapkan oleh UU No 40/1999 tentang Pers. Sampai akhir November 2018, pihak Redaksi Indonesia Tatler tidak pernah melakukan ralat dan hak jawab serta hak koreksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Karena  janji  publikasi   ralat  itu  tidak  dipenuhi   Redaksi  Majalah  Indonesia   Tatler,   akhir  Juli  2017  Ello mengadukan kasus itu ke Dewan Pers.  Dalam Penilaian Pernyataan dan Rekomendasi (PPR) No 26/PPR-DP/X/2017 tertanggal 9 Oktober 2017 tentang Pengaduan Ello Hardiyanto terhadap Majalah Indonesia Tatler, Dewan Pers menegaskan bahwa  Indonesia Tatler  bukan diterbitkan oleh perusahaan pers. Selain itu, PPR Dewan Pers juga menyatakan bahwa Majalah Indonesia Tatler tidak menjalankan fungsi pers sebagaimana diatur dalam Pasal 3 dan Pasal 6 UU No 40/1999 tentang Pers. PPR Dewan Pers awal Oktober 2017 menegaskan, Redaksi Majalah Indonesia Tatler  melanggar Kode Etik Jurnalistik karena tidak   segera melayani hak jawab   yang diminta Ello   Hardiyanto.   

Dewan Pers juga mengatakan Redaksi Majalah Indonesia Tatler telah melanggar pasal 5 UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers karena tidak segera melayani permintaan hak jawab Ello Hardiyanto. Ello melalui laporan Polisi Nomor: TBL/5030/X/2017/PMJ Dit.Reskrimsus mengadukan kasus itukepada polisi. Kasus penyebaran berita bohong itu ditangani Subdit Cyber Direktorat ReskrimsusPolda Metro Jakarta sejak tahun 2017 dan sampai kini masih belum jelas perkembangannya.

 

Iklan Adams

Akhir   Mei   2017,   Adams   mengirim   surat   kepada   pihak Majalah  Indonesia   Tatler yang isinya menyatakan Ello dan istrinya tidak berhak menjadi orangtuanya. Adams juga memasang iklan di Harian Indopos dan Harian  Sindo, menyatakan putus hubungan keluarga dengan Ello Hardiyanto. Pengumuman itu membuat Ello makin terpukul. Tambahan pula, tanggal 29 Mei 2017 pengacara3

Irawan Arthen mengatasnamakan Adams, mengirim surat kepada Ello Hardiyanto yang isinya antaralain memberitahukan   pemasangan iklan putus   hubungan keluarga yang   dipasang oleh   Adams Selamat Adikuasa Hardiyanto tersebut.

Anna   Subardjo, Sekretaris   Redaksi pada Majalah  Indonesia Tatler, tanggal 28   Agustus 2017 mengirim imel memberitahukan bahwa Adams sebelumnya sudah menyatakan Ello Hardiyanto dan istrinya tidak berhak menjadi orangtuanya dan dokter itu selaku orang dewasa berhak menentukan siapa yang pantas menjadi orangtuanya dalam resepsi pernikahan.

Ello Depresi

Tindak kekerasan psikis dan penyebaran berita bohong mengenai orangtuanya yang dilakukan oleh Adams menyebabkan Ello  Hardiyanto mengalami penderitaan   psikis, merasa tidak berdaya,  dan kehilangan rasa percaya diri. Akibat tindakan kekerasan psikis oleh Adams yang terus-menerus, ElloHardiyanto mengalami depresi. Bahkan tanggal 14 Desember 2016 ia pernah disarankan Prof. Dr Hanafi Trisnohadi, SpPD, KKV, SpJP dirawat. Prod Hanai menulis rujukan agar Ello Hardiyantodirawat oleh psikiater karena depresi. Psikolog Aurora, MPsi, Psi,   dalam beberapa evaluasi   psikologis menemukan Ello   Hardiyanto menunjukkan gejala trauma pasca kejadian yang mengancam keselamatannya secara fisik maupun kesejahteraannya   secara psikologis.   

Trauma itu terjadi akibat   kekerasan verbal putranya   yang bernama Adams. Psikolog itu menilai, akhir tahun 2017 Ello masih mengalami flashback tentang anaknya yang mengancam memukulnya. Ingatan itu muncul setiap hari. Ello juga menunjukkan gejala enggan bertemu orang lain, merasa terancam, dan tidak percaya kepada orang lain. Tindak kekerasan psikis yang terus-menerus oleh Adams menyebabkan Ello mengalami penderitaan psikis dan mengalami depresi. 

Sampai pertengahan tahun 2017, Ello Hardiyanto masih menunjukkan gejala trauma psikologis akibat kekerasan fisik dan kekerasan verbal serta ancaman anaknya yang hendak memukulnya. Kondisi   kesehatan Ello menjadi   sangat menurun belakangan   ini. Resume Medis   No 335.Kmed.2.12.2017 yang dibuat oleh Prof Dr Hanafi Trisnohadi, SpPD-KKV, SpJP dari Rumah Sakit Medistra 9 Desember 2017, menyebutkan Ello Hariyanto cepat lelah dan mengalami sesak nafas, akibat penyakit diabetes, hipertensi dan dislipedemia.  Kondisi tersebut  menyebabkan Ello sampai saat ini harus selalu bersiaga dengan tabung iksigen. Maret 2018 Ello menjadi kaget ketika mendapat panggilan dari Polda Metro Jaya. 

Ternyata tanggal 6Desember 2017, Adams melalui Laporan Polisi No 5966/XII/2017/PMJ/DitReskrimum mengadukan Ello  mencemarkan    

nama   baiknya.    Ello   tidak   mengira   Adams   sampai   hati   melakukan  berbagai kekerasan psikis terhadapnya sesuai ancaman yang  

disampaikan   melalui   pesan   WA   kepada orangtuanya akhir Oktober 2016. Ello dan Gina menilai sejak akhir Oktober 2016 seluruh tindakan dokter Adams yang berkuliah di Unsrat Manado tersebut merupakan rangkaian kekerasan psikis yang membuat mereka menderita.

Karena tidak tahan dan merasa sangat terganggu, April 2018 Ello mengadukan Adams. PengaduanEllo di Polda Metro Jaya ternyata dilimpahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan. Sejak akhir Maret2018, kasus tindak kekerasan psikis yang dilakukan oleh dokter Adams Selamat Adi Kuasa ditangani oleh Polres Metro Jakarta Selatan. Beberapa sumber menyebutkan, penyidikan terhadap tersangka Adams akhir November 2018 mencapai tahap pemberkasan.

Albert Kuhon menilai, tindak kekerasan psikis dengan tersangka Adams diatur dalam Pasal 5 jo pasal 7  Undang-undang No 23tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Selain itu, rangkaian tindakan Adams terhadap orangtuanya dapat digolongkan pidana yang diatur dalam Pasal 355 dan 356 Kitab Undang-undang   Hukum   Pdana   (KUHP)   serta   Pasal   46   Undang-Undang   Nomor   1   Tahun   1974 tentang Perkawinan. “Semula Ello tidak berniat mengadukan kasus ini. Tetapi karena berlangsung terus-menerus, tampaknya orngtuanya menginginkan Adams menjadi jera dan menghentikan tindakkekerasan kepada mereka,” tutur Albert Kuhon. 

Sampai berita ini diturunkan,    dokter Adams Selamat Adi   Kuasa maupun notaris Inge   Rubyati Wardhana, SH tidak bisa dimintai keterangan atau konfirmasi. Michael Deo SH dan Rekan yang menjadi kuasa hukum Adams memberitahu media bahwa mereka mengusahakan perdamaian tanpa pertanyaan media kepada kliennya.