BREAKINGNEWS.CO.ID - Waktu krisis besar apa pun, kegugupan di pasar modal internasional pasti meningkat. Sebut saja: ditembak jatuhnya pesawat penumpang MH17 bulan Juli 2014 di kawasan eropa. Lantas sanksi lanjut terhadap Rusia gegara dukungan ke kubu separatis Donetsk. Juga sanksi terhadap Korut atau Persia. Yang lagi nge-trend adalah sikon terberat saat ini: krisis gegara korona. Bulan Maret 2020 saja bursa Indonesia sudah kehilangan lebih dari Rp 2.100 triliun akibat virus ini. Semuanya mengalahkan banyak investor. Membuat harga saham. Membuat harga valas jadi tidak stabil. Dengan mata uang minor, ini adalah artikel tentang volatilitas. Di bursa saham meningkat.

Mata Uang Pengungsi

Mata uang pengungsi adalah mata uang sangat stabil. Stabilitas berarti bahwa mata uang tidak terpapar pada fluktuasi yang gonjang-ganjing karena inflasi. Lumayan kokoh terhadap situasi politik atau ekonomi negara yang tidak pasti atau faktor negatif lainnya. Istilah ini berasal ketika investor menghindar dari lingkungan yang non-stabil dan karenanya beralih ke yang stabil. Misalnya, Franc Swiss sering dan berulang kali menjadi bagian dari lingkaran nilai-nilai stabil. Emas bukan mata uang, tetapi persyaratan serupa berlaku pula untuk emas. Biasanya saat ada gejolak politik dan/atau ekonomi, emas sering dianggap sebagai "pelabuhan aman" bagi investor.

Krisis Iran

Krisis ini menyebabkan nilai Franc Swiss naik. Intensifikasi panas antara AS dan Iran meningkatkan permintaan untuk investasi yang aman (seperti Franc Swiss). Euro sementara anjlok ke tingkat terendah sejak musim semi 2017. Intensifikasi ketegangan itu telah secara signifikan melonjakkan permintaan untuk investasi yang aman dalam jangka pendek. Franc Swiss banyak diminati. Malah naik secara signifikan terhadap Euro. Ia berada tahun 2019 di level tertinggi selama 20 bulan terakhir. Sedangkan Dolar AS tetap dianggap sebagai pelabuhan aman.

Krisis Gegara Korona

Para ahli memprediksi terjadinya fluktuasi akbar di valas. Siapa pun yang menang atau kalah ikut terguncang akibat ketergantungan Tiongkok pada harga minyak. Kengerian terhadap virus korona tambah menggerogoti kepercayaan terhadap kestabilan pasar duit. Saham kehilangan nilainya. Krisis korona menyebabkan fluktuasi untuk waktu yang tidak singkat. Fase yang entah kapan berakhirnya. Dengan kalimat lain, waktu volatilitas rendah di pasar valas akan berakhir, seiring dengan ditemukannya vaksin. Krisis gegara korona membuat Schengen tidak lagi utuh. Peristiwa keretakan Schengen ini tidak pernah ada di benak politikus manapun. Sepertinya mustahil koq bisa-bisanya terjadi. Aneh dan menyedihkan, tetapi inilah fakta yang tidak terbantahkan.

Dolar Australia telah terdepresiasi sekitar delapan persen terhadap dolar AS mulai awal tahun 2020. Sama halnya dengan Rubel Rusia, yang jatuh sekitar delapan persen terhadap dolar sejak beberapa bulan. Krone Norwegia amblas sekitar enam persen.

Tekanan dialami mata uang Asia seperti ringgit Malaysia. Bahkan Rupiah termasuk yang paling runtuh. Yuan Tiongkok, di sisi lain, telah secara mengejutkan menguat sejauh ini. Yuan konstan terhadap dolar sejak awal tahun 2020. Perubahan nilai tukar memainkan peran penting terhadap kerentanan valas. Fluktuasi berlanjut, senyampang obat dan/atau vaksin melawan korona belum berhasil jadi solusi. Mata uang minor bakal lebih menderita. Dolar Australia telah terpukul sangat keras sejauh ini.

Peluang Pasar Valas Saat Krisis

Ada faktor penting lain untuk difusi pasar valas dalam lingkup masing-masing bank sentral. Di Australia, misalnya, bunga utama bank sentral diturunkan menjadi 0,5 persen. Jika ada keraguan, bank dapat menurunkannya lebih lanjut tanpa masalah besar. Gunanya sebagai reaksi terhadap ekonomi global yang lebih lemah. Federal Reserve AS bahkan punya lebih banyak ruang bermain. Suku bunga utama di AS besarnya 1,75 persen. Di Rusia enam persen.

Bank sentral di Jepang, Swiss, dan Eropa punya peluang jauh lebih sedikit untuk peringanan suku bunga dan bentuk pelonggaran moneter lainnya. Suku bunga deposito: -0,5 persen di kawasan Schengen. Bunga ini -0,1 persen di Jepang dan -0,75 persen di Swiss. Menurut pendapat banyak ekonom (juga bankir sentral), suku bunga tidak dapat diturunkan lebih jauh. Pada titik tertentu, suatu nilai telah tercapai di mana efek negatif dari suku bunga terpangkas lebih besar daripada impuls positif.