JAKARTA - Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games XVIII pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 yang akan datang.

Pemerintah pun memberikan target kepada panitia pelaksana, Inasgoc supaya Indonesia berada di peringkat 10 besar. Untuk mencapai target itu tentu atlet harus ditunjang oleh beberapa faktor, mulai dari sarana dan prasarana, dukungan pemerintah, pelatih yang berkompeten.

Selain itu, ada satu faktor yang mungkin belum terlalu disadari olah para pengurus besar atau atlet itu sendiri yakni Sport Science. Sport Science merupakan disiplin ilmu yang mempelajari penerapan dari prinsip-prinsip science dan teknik-teknik yang bertujuan untuk menigkatkan prestasi olahraga.

Jerman, China, Korea Selatan, dan Australia adalah beberapa negara yang sudah sangat intensif menginplementasikan iptek olahraga yang canggih. Itu kemudian berimbas pada terdongkraknya prestasi atlet mereka di berbagai cabang olahraga.

Lalu bagaimana di Indonesia?

Wakil Kepala Bidang Sport Science KONI Pusat, Dr.dr. Leane Suniar Manurung, MSc, SpGk mengatakan masih sedikit kesadaran para pengurus cabang, pelatih dan termaksud atlet itu sendiri terhadap sport science, namun pihaknya bakal bekerja keras demi tercapainya target Asian Games 2018 itu.

"Saat itu PB mungkin sudah ada yang menerapkan sport science, namun jumlahnya masih sedikit. Untuk masa sekarang, tentunya sport science merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari prestasi, kita bisa lihat sendiri dari Asia Tenggara saja, tetangga kita, Thailand, Vietnam, Singapura, mereka sudah menerapkan sport science dengan merata, dan hasilnya mereka mendominasi daripada kita" ujar Leane kepada pewarta, Jumat (24/11/2017)

"Selain itu, atlet juga harus tau sport science itu, jika ingin meraih prestasi selain motivasi dari dalam hati, namun penerapan sport science juga harus berjalan. kita contohkan saja, atlet yang seharusnya memiliki waktu istrirahat yang cukup tapi jika mereka nakal bagaimana? mereka tidur larut malam, mereka merokok, makan yang kurang bergizi, kalau makan tahu tempe saja mana bisa bersaing dengan lawan yang makannya bergizi." tambahnya

Di samping itu Leane menambahkan, faktor kedekatan pelatih yang mengerti sport science juga sangat berpengaruh terhadap prestasi atlet menurutnya pemain, lanjut Leane bisa mempunyai motivasi tambahan jika pelatih memiliki ikatan batin dengannya.

"Pelatih seharusnya bisa menjadi orang tua atlet di lapangan, kita contohkan saja, jika pelatih yang memiliki kedekatan dengan atlet tentu sangat mudah untuk memberikan arahan kepada atletnya, atlet merasa nyaman saat bersama pelatihnya. tentu itu meupakan motivasi tersendiri bagi atlet. pungkasnya.