BREAKINGNEWS.CO.ID - Pengamat politik dari President University, Mohammad AS Hikam mengatakan kritik yang dilemparkan terhadap media harus fair. Menurutnya, keberadaan media sendiri merupakan tiang demokrasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Hikam menanggapi sikap Prabowo yang terkesan menyindir media disaat dirinya menghadiri salah satu acara pada Rabu (5/12/2018) lalu. Sindiran tersebut disampaikan Prabowo terkait pemberitaan Reuni 212 di kawasan Silang Monas, Jakarta, Minggu (2/12/2018).

"Prinsipnya, kritik kepada media itu fair, karena media itu adalah tiang demokrasi. Jadi memperkuat tiang itu antara lain adalah melakukan kritik yang memang punya fakta dan argumen," kata Hikam kepada wartawan saat ditemui di kawasan Wijaya Timur, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jum'at (7/12/2018).

"Tetapi kalau kemudian mengkritik itu dalam rasa ingin mengambil satu posisi yang misalnya menuding, membenci ya itu gak bagus. Nah, statemen dari pak prabowo itu tentu harus dilihat apakah sebagai kritik atau tidak. Nah, ini yang tau media, kalau publik akan melihat bahwa pak prabowo tampaknya sedang tidak terlalu berkenan dengan cara media menyudutkan beliau," sambung Hikam.

Kendati demikian, hal tersebut sejatinya dapat didiskusikan terlebih dahulu. Namun ia berpendapat jika media sendiri memiliki hak untuk meliput atau tidak. Jadi tidak bisa harus memuat apa saja yang diinginkan. Jadi harus fair, kalau fair maka mengkritik media itu adalah memperkuat demokrasi.

"Jangan seperti Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) karena media yang tidak setuju dengan dia, dianggap fake news, dianggap sebagi musuh. Nah, yang seperti itu seharusnya tidak ditiru," pungkas Hikam.

Mantan Danjen Kopassus tersebut menyindir sejumlah media yang tidak melihat aksi reuni 212 sebagai peristiwa yang besar. 

"Sudah saatnya kita bicara apa adanya, Yang bener, bener yang salah ya salah.  Mereka mau mengatakan yang 11 juta hanya 15 ribu, bahkan ada yang lebih dari 1.000 dia nantang minta, terserah deh apa yang dia minta," kata Prabowo.

Prabowo juga mengaku tidak lagi percaya dengan media mainstream. Bahkan Prabowo mengaku membaca koran hanya untuk melihat kebohongan demi kebohongan.

"Saya katakan, hey jurnalis-jurnalis, kalian tidak berhak sandang sebagai jurnalis. Saya katakan mulai sekarang jangan lagi hormati mereka karena mereka semua antek," ujarnya diikuti sorakan peserta yang dihadiri mayoritas oleh penyandang disabilitas.