BREAKINGNEWS.CO.ID – Di tengah upaya pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang membuka kesempatan kepada kaum perempuan, terlihat pula sejumlah orang yang menentangnya. Terlihat dari aksi pihak berwenang Arab Saudi yang memeriksa seorang ulama. Polisi menahan seorang ulama yang mengatakan bahwa perempuan sebaiknya tidak bekerja di toko untuk menjaga "kesuciannya dan kehormatannya".

Pernyataan tersebut disampaikan oleh ulama itu saat menjadi khatib di sebuah lokasi di Jeddah. Khotbah itu disampaikan dalam rangka Idul Adha pada Minggu (11/8/2019). Isu khutbah tertera dalam rekaman audio yang kemudian menyebar di media sosial.

Pernyataan itu langsung mendapatkan kecaman dan dikritik oleh menteri agama negara itu dan juga oleh para pengguna sosial media. "Apa yang terjadi dalam khutbah Idul Adha di Jeddah bertentangan dengan peraturan dan instruksi," kata Menteri Urusan Agama Abdullatif al-Sheikh, dikutip Okaz, 11 Agustus 2019.

"Apa yang dikatakannya tidak mencerminkan sikap kementerian, dan tidak pula mewakili pandangan para ulama di kerajaan ini. Hal itu tidak dapat diterima," imbuhnya. 

Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi baru saja membuka kesempatan kepada kaum perempuan tanpa wali atau tanpa mahram untuk bepergian ke luar negeri. Bahkan beberapa bulan lalu memperbolehkan perempaun menyetir mobil sendiri. Sebelumnya hal ini sudah berpuluh-puluh tahun lalu dianggap tabu di negeri itu.

Selama beberapa tahun terakhir, perempuan Arab Saudi diberi lebih banyak kesempatan bekerja dan mereka juga bekerja sebagai pelayan toko yang sebelumnya dilarang. "Elite agama yang berpengaruh, sebelumnya terang-terangan sempat menolak perubahan itu, tetapi sekarang mereka menyambutnya dan menyebut langkah tersebut penting dilakukan serta sesuai dengan ajaran agama," ungkap wartawan BBC urusan Arab, Sebastian Usher.

Selama ini di Arab Saudi banyak pandangan yang konservatif. Kini mereka diperintahkan oleh pihak berwenang untuk berpandangan lebih terbuka. Putra Mahkota Mohammed bin Salman sendiri yang memelopori berbagai perubahan di Kerajaan Arab Saudi.

Akan Tetapi secara diam-diam, sebagian ulama konservatif tetap tidak setuju. Bahkan ada yang terang-terangan menentangnya, lanjut Usher. Dalam rekaman audio dari khutbah Idul di Jeddah menunjukkan ketidaksetujuan seorang ulama.

Peristiwa ini terjadi beberapa hari setelah pemerintah Arab Saudi memutuskan bahwa perempuan di atas usia 21 tahun boleh bepergian tanpa mahram, sama dengan laki-laki.

Di bawah komando Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Arab Saudi menempuh banyak perubahan guna memberdayakan perempuan, termasuk pencabutan larangan mengemudi, namun banyak aktivis hak-hak perempuan di Arab Saudi tetap dipenjara tanpa diketahui nasib mereka.