BREAKINGNEWS.CO.ID – Pembunuhan massal terjadi di Australia pada Minggu (9/9/2018), sedikitnya lima orang, termasuk dua balita kembar berusia dua tahun tewas dalam tragedy tersebut. Kepolisian Australia memberikan laporan kalau korban pembunuhan massal ini merupakan satu keluarga di Perth bagian barat daya, terdiri dari balita kembar dan kakaknya yang berusia 3,5 tahun, beserta ibu, serta nenek mereka. Seorang penyelidik menyampaikan pembunuhan terungkap setelah seorang pria berusia 20 tahun berkunjung ke kantor polisi daerah tersebut.

"Pria tersebut yang saat ini membantu penyelidikan polisi masih tetap diamankan. Belum ada tuntutan yang dijatuhkan kepadanya sampai saat ini," kata penyelidik kepada AFP, Senin (10/9). Hingga saat ini, polisi juga belum menjelaskan rincian kronolgi maupun motif pembunuhan.

Kepada stasiun televisi ABC, Richard Fairbrother, tetangga korban, mengaku baru kembali dari liburan saat mengetahui insiden itu. Sebelum pergi, keadaan rumah korban memang terlihat sepi tidak seperti biasanya. "Kami memperhatikan rumah di sebelah kami cukup tenang, tidak seperti biasa, karena mereka memiliki banyak anak kecil," tutur Fairbrother.

"Kami juga mendengar dari beberapa teman yang tinggal di sini juga menyebutkan kalau mereka tidak melihat atau mendengar siapa pun di rumah sebelah ketika kami pergi, walaupun sebenarnya kami cukup sering melihat anak-anak di rumah itu bermain di halaman belakang," ucapnya. Insiden tersebut menggegerkan warga dikarenakan pembunuhan massal jarang terjadi di Australia.

Akan tetapi, khusus bagi negara bagian Australia barat, pembantaian keluarga ini merupakan yang ketiga kalinya berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juli 2018 lalu, seorang pria dituduh membunuh ibu serta dua saudara kandungnya. Sementara itu, pada Mei lalu, seorang kakek menembak mati istri, anak wanita, serta empat cucunya. Pria paruh baya tersebut kemudian menembak diri sendiri.

Sebelumnya juga diberitakan, seorang pria di Melbourne dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah secara brutal membunuh dan memutilasi istrinya di depan tiga anak-anaknya yang masih belia. Diberitakan di AustraliaPlus, polisi yakin bahwa pria berusia 36 tahun asal Broadmeadows, Australia ini tega membunuh istrinya karena sang istri tidak ingin suaminya bergabung dengan kelompok Islamic State (IS) di Suriah.

Di bulan Juli 2016, tiga anak mereka memberitahu polisi bahwa mereka melihat ayah mereka 'mencincang' ibu mereka yang berusia 27 tahun, dengan pisau di ruang keluarga rumah. Salah satu dari anak-anak tersebut mengatakan kepada polisi bahwa 'jasad ibunya tidak berbentuk lagi selain hanya genangan darah.'