BREAKINGNEWS.CO.ID – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (Sekjen PBB), Antonio Guterres, berharap pemerintah Myanmar mengampuni dua orang wartawan Reuters. Kedua wartawan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara karena memberitakan pembantaian di Rakhine, Myanmar, Jumat (21/9/2018).

Guterres menuturkan hukuman itu tidak dapat diterima untuk Wa Lone berusia 32 tahun dan Kyaw Soe Oo berusia 28 tahun karena mereka melakukan pekerjaan sebagai jurnalis di Myanmar. "Ini keyakinan mendalam saya, kalau hal tersebut tidak seharusnya terjadi. Saya berharap pemerintah dapat memberikan pengampunan untuk membebaskan mereka secepat-cepatnya," kata dia saat konferensi pers di Markas Besar PBB New York.

Pada pekan lalu, pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi menuturkan dua wartawan itu tidak dijatuhi hukuman karena pekerjaan mereka akan tetapi karena tidak mematuhi hukum. "Mereka tidak dipenajra karena mereka wartawan akan tetapi karena pengadilan memutuskan mereka telah tidak mematuhi Undang-undang Kerahasiaan Negara Myanmar," kata dia.

Wartawan Reuters membantah tuduhan itu. Mereka bersikeras ditugaskan untuk mengekspos pembunuhan terhadap 10 muslim Rohingya di Desa Inn Din pada 2017 lalu. Kasus itu memicu kecaman di masyarakat internasional. Mereka menganggap penangkapan ini sebagai upaya untuk memberangus beberapa kabar mengenai tindakan kekerasan tentara Myanmar terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Ketua Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR), Michelle Bachelet menuturkan pemenjaraan pasangan itu merupakan pesan ke semua wartawan di Myanmar agar mereka tidak boleh bertugas tanpa rasa takut. Akan tetapi mereka harus memilih untuk melakukan swa-sensor atau penuntutan risiko.

Sebelumnya diberitakan, dua wartawan kantor berita Reuters akhirnya dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara oleh Pengadilan Myanmar dengan tuduhan membocorkan rahasia negara. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditangkap sejak Desember 2017 lalu. Sebelum mereka ditangkap, Lone dan Soe sempat menyelidiki pembantaian 10 orang Rohingya di Rakhine State.

"Saya percaya pada keadilan dan demokrasi," kata Wa Lone setelah putusan, dikutip dari The Straits Times, 3 September 2018 lalu. Mereka mengaku dijebak oleh polisi. Pasalnya, sebelum ditangkap, mereka diundang ke sebuah restoran di Yangon. Hukuman ini dijatuhkan di tengah kritik dunia internasional kepada Myanmar atas permasalahan Rohingya yang tak kunjung rampung serta dugaan pembantaian yang dilakukan militer Myanmar di Rakhine.