JAKARTA – Dua kejanggalan identitas tenaga kerja wanita yang tewas akibat dugaan penyiksaan di Malaysia, Adelina diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. Dia menuturkan ada perbedaan nama korban yang selama ini beredar dengan yang didapati oleh pihaknya.

"Setelah kami lacak, ditemukan bahwa nama korban bukan Adelina Lisao yang selama ini beredar, tapi Adelina Jemirah," ujar Retno di kantornya, Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Selain itu, Retno menyampaikan pihaknya juga menemukan kalau paspor wanita asal Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, dibuat di Blitar, Jawa Timur. Sementara itu, wanita berusia 26 tahun tersebut terlacak meninggalkan Tanah Air melalui Medan untuk menuju Malaysia.

Tim perlindungan WNI Kemlu RI, paparnya, juga sudah berkomunikasi dengan ayah serta paman Adelina untuk menyampaikan perkembangan penyelidikan dan komitmen pemerintah mendampingi proses hukum kasus ini. "Yang sedang kami upayakan saat ini adalah masalah kompensasi," kata Retno.

Adelina ditemukan polisi duduk tidak berdaya di teras sebuah rumah di Taman Kota Permai, Bukit Mertajam, Penang, Malaysia, Sabtu (10/2/2018). Kepala serta wajahnya bengkak, dan tangan serta kakinya mengalami luka-luka. Dia langsung dibawa ke Rumah Sakit Bukit Mertajam, Minggu (11/2/2018), tapi nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Dikutip media setempat, anggota Parlemen Malaysia dari Bukit Pertajam, Steven Sim Chee Kong, menyatakan korban sempat mengaku satu bulan terakhir dipaksa tidur di luar rumah bersama anjing piaraan majikan. Korban juga tidak diberi makan dan mengalami penganiayaan.

Retno mengatakan aparat keamanan masih terus menyelidiki kasus ini. Menteri Besar Penang, Lim Guan Eng bahkan juga turut mengirimkan surat dukacita atas kematian Adelina. "Otoritas Malaysia juga sudah bergerak dan bahkan Chief Minister Pulau Penang sudah menyampaikan surat dukacita kemarin," kata Retno.

Sejauh ini polisi telah menahan tiga terduga tersangka yakni para majikan Adelina untuk kepentinngan penyelidikan. Hakim memutuskan menahan ketiga tersangka hingga 19 Februari mendatang. Jika kedapatan bersalah, pelaku penganiayaan Adelina terancam hukuman mati di bawah Pasal 302 pidana Malaysia mengenai pembunuhan berencana.