BREAKINGNEWS.CO.ID - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Kapitra Ampera menilai ada yang aneh dengan surat keputusan koordinator pusat Koalisi Relawan Nasional (Kornas) Prabowo terkait pemecatan wakil ketua umumnya, Bagus Bawana Putra (BBP) soal kasus hoax tujuh kontainer surat suara tercoblos.

Menurut Kapitra, hal itu ada indikasi, ada dugaan bahwa surat tersebut dibuat tanggal mundur. Dicapnya itu sudah ada logo dua jari dan nama organisasi relawannya.

"Nah, pengumuman paslon itu kan baru 21 September 2018, masak Juli susah ada. Anehnya lagi dia diangkat tanggal 7 Juli 2018 dan diberhentikan tanggal 24 Juli 2018. Jadi itu kan aneh. Lalu sudah ada simbol dua jarinya. Jadi seolah-olah dibaca kornas. Itu kan kelihatan artinya masih baru," kata Kapitra kepada breakingnews.co.id, Sabtu (12/1/2019).

Kapitra pun menilai jika surat bernomor 005/SK-KP/VII/2018 itu merupakan sebuah jejak jika relawan Prabowo-Sandi itu ingin lari dari realitas kebohongan yang mereka buat sendiri. "Kebohongan itu selalu membutuhkan kebohongan lain untuk menutupinya. Itu saja yang saya liat ada dugaan seperti itu. Jadi terkesan kurang sempurna untuk lari dari realitas kebohongan itu sendiri," ujarnya.

Surat pemecatan tersangka hoax surat suara sebagai pimpinan relawan Kornas Prabowo. (Foto: Dok. Istimewa)



Apakah hal itu bisa diartikan juga kalau surat tersebut menunjukkan sebuah upaya lari dari tanggung jawab? Kapitra pun tak menampik. Ia berpendapat dengan kenyataannya bahwa memang ada dugaan jika jejak itu harus dihapus. Sehingga terbaca oleh masyarakat bahwa itu merupakan inisiatif sendiri.

"Tapi tidak bisa juga, bagaimana orang tidak mengkorelasikan dengan tim sukses atau dengan tim pemenangan 02. Nah, itu bagaimana, kan begitu. Cuma dia adalah pendukung. Dikatakan tidak terdaftar dan sebagainya, fungsi sayap itu kan adalah bagian dari kesuksesan paslon," terang Kapitra yang juga berprofesi sebagai advokat itu.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi pun menyatakan jika relawan Kornas tersebut tidak terdaftar. Kapitra pun tidak membantah pengakuan tersebut. Menurutnya, masyarakat sudah bisa menilai sendiri hal tersebut.

'Kebenaran itu tidak bisa dimasukan ke dalam 'kontainer'. Dan dia akan tetap muncul menjadi sebuah... Atau meleleh dan memberitahu bahwa keberadaan kebenaran itu selalu meninggalkan jejak," ujar Kapitra dengan berseloroh. "Nah, ini juga seperti itu. Bahwa jejak2-jejak dari kebenaran itu terlihat sendiri dengan cara menutupi ketidakbenaran itu. Kebohongan selalu memerlukan kebohongan lain untuk menutupinya. Itu saja kuncinya," imbuh Kapitra yang juga calon anggota legislatif dari PDIP dapil Riau II itu.