BREAKINGNEWS.CO.ID - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kapitra Ampera mendesak kepolisian untuk melakukan penangkapan terhadap orang yang melakukan framing terhadap kabar hoax surat suara Pemilu 2019.

Menurutnya, hoax surat suara tersebut merupakan teori busuk yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. "Polisi harus menangkap orang-orang seperti ini. Teori-teori busuk seperti ini kan juga sudah dilakukan berkali-kali. Ada yang mengaku dianiaya segala macam, ternyata operasi plastik. Dan terus-terusan begitu. Dan ini juga selalu menyudutkan suatu pihak," kata Kapitra kepada breakingnews.co.id saat dihubungi, Kamis (3/1/2019).

Selain itu, seolah-olah para penyebar hoax ini mencari kebenaran jika Pilpres 2019 adalah pilpres yang curang. "Nah, itu dicari terus, padahal pilpresnya sendiri belum mulai. Bahkan institusi penyelenggara pemilu pun belum mencetak surat suara, tapi sudah di-framing sedemikian rupa," ujarnya. "Untuk itu, polisi harus bongkar ini. Polisi, menurut saya harus bertindak adil, siapapun yang melanggar hukum harus ditindak," imbuh Kapitra yang juga calon anggota legislatif dari PDIP dapil Riau II itu.

Dirinya pun mencontohkan terkait dengan kinerja kepolisian soal kasus hoax Ratna Sarumpaet yang dirasa banyak pihak yang terlibat. Namun, kata Kapitra, pihak kepolisian tidak mengusut pihak-pihak yang harus bertanggung jawab dalam kasus itu.

"Harusnya polisi tegas dalam menindak. Jangan biarkan bangsa ini terus seperti ini. Harusnya orang memberikan pencerahan, kecerdasan kepada masyarakat, tapi ini justru pembodohan. Dan ini dapat merusak pikiran masyarakat dengan kabar-kabar fitnah dan busuk seperti ini. Polisi harus temukan dan tangkap pelaku hoax, dan kalau perlu cari dalang dibalik semua ini," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, menanggapi hal ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) beserta Badan Pengawas Pemilu langsung turun ke lapangan guna melakukan pengecekan. Adapun pengecekan tersebut dilajukan di kantor Bea Cukai, Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Setelah diselidiki, KPU pun memastikan bahwa kabar tersebut hoax. KPU tidak menemukan bukti-bukti seperti yang beredar.

Selain itu, KPU juga membantah kabar yang menyebut jika mereka telah menyita satu kontainer yang berisi surat suara yang sudah dicoblos. "Berdasarkan keterangan yang didapat oleh pihak Bea Cukai, tidak ada kebenaran tentang berita tujuh kontainer tersebut, itu tidak benar," kata Ketua KPU Arief Budiman. "Tidak benar juga kabar bahwa ada TNI AL yang menemukan itu, dan tidak benar bahwa KPU dikatakan telah menyita satu kontainer tersebut," sambungnya.

Terkait dengan surat suara pemilu, Arief mengaku jika hingga saat ini pihaknya belum memproduksi surat suara. Ia mengatakan surat suara baru akan diproduksi pada pertengahan Januari 2019 ini.