JAKARTA - Pemerintah Iran memberikan peringatan kepada Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, untuk berhati-hati ketika berurusan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikarenakan Presiden AS tersebut dapat membatalkan perjanjian denuklirisasi antara Korut dan AS kapanpun itu.

"Kami tidak tahu tipe orang yang bernegosiasi dengan pemimpin Korea Utara. Tak jelas apakah dia tidak akan membatalkan perjanjian itu sebelum pulang," ujar juru bicara pemerintahan Iran, Mohammad Bagher Nobakht. Pernyataan itu dilontarkan untuk menanggapi kesepakatan hasil pertemuan bersejarah antara pemimpin Korut, Kim serta Presiden AS, Trump di Singapura pada Selasa (12/6/2018).

Salah satu poin penting dari perjanjian itu adalah kedua negara sepakat untuk mewujudkan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea. Iran sendiri sebelumnya juga pernah menandatangani sebuah perjanjian terkait dengan penghentian program senjata nuklir mereka dengan AS di bawah pemerintahan Presiden AS terdahulu, Barack Obama, dan sejumlah negara lainnya.

Akan tetapi, Trump membatalkan perjanjian itu pada Mei 2018 lalu dikarenakan menganggap isinya tidak dapat membidik secara langsung program rudal balistik Iran. Presiden AS ke-45 tersebut menuturkan ingin menyusun perjanjian baru. Negara lain yang ikut menandatangani perjanjian tersebut, seperti Inggris, Cina, Prancis, Jerman, serta Rusia, mengkritik AS dan terus berupaya untuk mempertahankan perjanjian.

Tidak hanya perjanjian nuklir Iran saja, Trump beberapa waktu terakhir juga menarik dukungannya dari pernyataan bersama para pemimpin negara di akhir konferensi tingkat tinggi G7 hanya berselang satu hari sebelum pertemuan dengan Kim.