BREAKINGNEWS.DO.ID - Di tengah pembahasan tentang calon-calon Menteri Kabinet Kerja II, Presiden Joko Widodo membuat gebrakan. Jokowi bukannya memberikan kisi-kisi tentang siapa yang akan ia pertahankan. Justru sebaliknya, Jokowi justru menegur beberapa Menteri yang dianggap belum maksimal.

Teguran itu dilayangkan Jokowi dalam sidang kabinet paripurna di Istana Bogor, Senin (8/7/2019). Beberapa Menteri dianggapnya tak maksimal dalam membuat iklim investasi di Indonesia menjadi lebih nyaman, misalnya dalam perizinan.

Jokowi dalam sidang tersebut menegur Menteri Kehutanan Siti Nurbaya Bakar serta Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil. Teguran kepada keduanya terkait dengan investasi yang masih terhambat karena permasalahan perizinan di lapangan.

Namun bukan hanya mereka saja. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan serta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno juga ditegur terkait impor migas. Semula Jokowi mengingatkan seluruh menteri yang hadir dalam rapat tersebut untuk mempermudah proses perizinan agar para investor berbodong-bondong menanamkan investasinya di Indonesia.

"Mungkin sudah berapa puluh kali saya sampaikan. Investasi yang berkaitan dengan ekspor, berkaitan dengan barang-barang substitusi impor, tutup mata, berikan izin secepat-cepatnya. Tapi kejadian di lapangan tidak seperti itu," kata Jokowi saat membuka rapat.

Selanjutnya Jokowi juga menyinggung soal proses perizinan yang berada di bawah Kementerian Kehutanan.  "Dari Kementerian Kehutanan misalnya masih lama, ini urusan lahan. Ini Pak Wapres biar bercerita mengenai petrochemical yang kita perlukan tapi sudah berhenti setahun lebih gara-gara yang berkaitan dengan lahan. Urusan kecil tapi ya ini menghambat," ucap Jokowi.

Selain itu Jokowi juga menceritakan pengalamannya melakukan kunjungan kerja ke Manado, Sulawesi Utara pada pekan lalu. Menurut Jokowi, banyak pengusaha yang sudah berbondong-bondong mengurus perizinan untuk mendirikan hotel di sana.

Kini wisatawan baik lokal dan mancanegara terus berdatangan untuk menikmati keindahan kota Manado. Namun, perizinan ini terhambat di Kementerian ATR/BPN. "Kita kurang hotel, pengusaha hotel sudah berbondong-bondong mau bikin, urusan yang berkaitan dengan tata ruang sebetulnya dari Menteri BPN bisa menyelesaikan dengan kesepakatan-kesepakatan yang memang harus itu dilakukan," kata dia.

Jokowi kembali mengingatkan jajarannya agar tidak terbelit dengan rutinitas. Selain itu  ia juga berpesan agar seluruh kementerian dan lembaga berani melihat masalah dan tantangan yang real di lapangan.

 "Saya kira kerja yang terintegrasi, kerja tim antarkementerian ini yang harus didahulukan," ucapnya.

Perihal, teguran yang diberikan Jokowi kepada Jonan dan Rini berbeda. Teguran kepada kedua menteri ini  karena impor yang tinggi di sektor minyak dan gas. Hal ini membuat neraca Perdagangan Nilai impor Januari-Mei turun mencapai 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Jokowi menilai angka tersebut belum memuaskan karena nilai impor masih tinggi. "Coba dicermati angka-angka ini dari mana kenapa impor jadi sangat tinggi, kalau didetailkan lagi migasnya ini naiknya gede sekali," kata Jokowi.

"Hati-hati di migas Pak Menteri ESDM, yang berkaitan dengan ini. Bu Menteri BUMN yang berkaitan dengan ini karena rate-nya yang paling banyak ada di situ," ungkap Jokowi.