BREAKINGNEWS.CO. ID – Indonesia bakal mendorong negara-negara industri utama dunia untuk  mengimplementasikan pencampuran biodiesel ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini dilakukan demi meningkatkan permintaan dan mengerek harga minyak kelapa sawit.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan hal ini akan dibicarakan di dalam pertemuan tingkat menteri Dewan Negara Produsen Kelapa Sawit (CPOPC) di Malaysia, hari ini. Sebagai catatan, CPOPC hanya beranggotakan dua negara yaitu Malaysia dan Indonesia.

Darmin menyebut, salah satu negara yang dibidik adalah China. Negara tirai bambu itu diharapkan mau melaksanakan pencampuran 5 persen biofuel di dalam BBM, atau biasa disebut B5. "Dan B5 seharusnya tidak ada masalah bagi mereka. Ini akan kami ajak kerja sama," jelas Darmin, Selasa (6/11/2018).

Menurut dia, tentu masih akan ada negara lain yang akan diajak untuk melakukan pencampuran biodiesel terhadap BBM. Namun, dalam waktu dekat, pemerintah berharap Malaysia juga secepatnya mengimplementasikan kebijakan B20 sama seperti Indonesia agar permintaan sawit kian meningkat.

Saat ini, posisi biodiesel Malaysia terhadap BBM masih di angka 7,5 persen. Padahal, dalam perjanjiannya, biodiesel 10 persen itu sudah harus dilakukan pada tahun ini. "Pada dasarnya, kebijakan CPOPC umumnya adalah mendorong demand naik, beda dengan organisasi negara-negara pengekspor minyak mentah (OPEC) yang lebih menekankan dalam menjaga suplai. Salah satu cara mendorong permintaan adalah B20," imbuh dia.

Selain meningkatkan permintaan, pencampuran biodiesel ke BBM ini juga bentuk perlawanan Indonesia terhadap kampanye negatif atas kelapa sawit, terutama yang dilancarkan Uni Eropa. "Dan untuk memperkuat CPOPC, kami akan mengajak kesempatan produsen lain, mungkin Kolombia ke dalam CPOPC," imbuh dia.

Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), rata-rata harga sawit dunia sepanjang Agustus 2018 hanya US$577,5 per metrik ton dan bergerak di kisaran US$542,5 hingga US$577,5 per metrik ton. Rata-rata harga tersebut merupakan yang terendah sejak Januari 2016. Tertekannya harga sawit tak lepas dari tren penurunan harga minyak nabati lain seperti kedelai dan melimpahnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia.