JAKARTA -- Tepat pada tanggal 8 Agustus 2017 ini asosiasi negara-negara Asia Tenggara atau biasa disebut ASEAN memperingati hari jadinya yang ke-50.  Sejak berdiri, organisasi yang bermarkas di Jakarta itu ingin terus meningkatkan kerja sama yang erat antara negara-negara anggotanya.

Tujuan mulai itu antara lain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya. Selain itu juga memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regional, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan diantara anggotanya dengan damai.

Menurut Ketua DPR RI Setya Novanto, pada awal berdirinya, tak sedikit yang meragukan masa depan ASEAN. Bahkan beberapa pandangan memperkirakan ASEAN akan "layu sebelum berkembang". Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Kini ASEAN telah menjadi kawasan kedua yang paling berkembang, setelah Uni Eropa.

“ASEAN bukan tanpa tantangan. Perselisihan Laut Cina Selatan yang belum tuntas, serta persaingan yang sangat ketat antara Amerika dan China turut menjadi ancaman bagi stabilitas ASEAN,” ungkap Setya Novanto dalam rilisnya yang dikirimkan ke breakingnews.co.id.

Di tengah perkembangan geopolitik internasional yang penuh dinamika, seperti Inggris keluar dari Uni Eropa dan krisis diplomatik di Kawasan Teluk yang tak kunjung selesai, Setya Novanto juga melihat ASEAN justru semakin menunjukkan stabilitas kesatuan. “ASEAN aktif menjadi embrio perdamaian dunia yang mampu menciptakan kemakmuran bagi warganya,” jelas Setya Novanto dalam rilisnya.

Di ASEAN, kini terdapat lebih kurang 640 juta jiwa dengan berbagai perbedaan agama maupun kebudayaan. “Di kawasan ini hidup dengan damai 240 juta muslim, 120 juta kristiani, 150 juta umat Budha, dan jutaan umat Hindu, Khonghucu, dan lainnya,” sebut Setya Novanto.

Namun dalam perjalanannya, stabilitas kawasan telah mendorong laju perekonomian negara-negara ASEAN. Data International Monetary Funds (IMF) menunjukan pendapatan domestik bruto (PDB) gabungan negara ASEAN pada awal masa berdiri di tahun 1970 mencapai 95 miliar US dollar. Namun kini sudah menjadi 2,7 triliun US dollar. Bahkan, pada 2030 diprediksi mencapai 8 triliun US dollar.

“Sejak awal pendirian ASEAN, Indonesia telah menjadi pemain kunci. Kita menjadi penggagas perlindungan hak asasi manusia, pembentukan komunitas keamanan se-Asia Tenggara, serta mewujudkan pagelaran budaya secara berkala. Karena itu, sebagai Ketua DPR RI, saya mendukung langkah politik internasional pemerintahan Jokowi - JK untuk tetap menjadikan Indonesia poros kekuatan ASEAN yang memberikan solusi bagi berbagai permasalahan dunia,” ungkap Setya Novanto dalam rilisnya.

Setya Novanto juga menyampaikan DPR RI melalui peran Diplomasi Parlemen juga akan seiring sejalan dengan pemerintah Indonesia dalam mendorong ASEAN agar lebih efektif dan kooperatif dalam membangun kerjasama perekonomian, sehingga bisa memperkecil jarak kesenjangan pendapatan dan mengurangi disparitas ekonomi di dalam ASEAN.

“Saya juga mengajak kaum muda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa untuk aktif menjaga solidaritas kebersamaan. ASEAN sebagai sebuah kawasan adalah rumah kedua kita. Persaudaraan antar sesama negara ASEAN harus terus dijaga. Dari sinilah perdamaian dunia tercipta,” pungkas Setya Novanto.