BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mendorong Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta seluruh maskapai penerbangan untuk mematuhi ketetapan tarif harga atas sesuai dengan Pasal 127 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. Hal tersebut dikatakan Bambang menyikapi kenaikan harga tiket pesawat hingga 2 kali lipat dari harga biasa. 
 
Bambang juga mendorong Kemenhub untuk memanggil seluruh maskapai penerbangan guna menjelaskan mengenai kenaikan tiket pesawat juga penerapan harga bagasi. 
 
"Agar tidak menimbulkan persepsi sebagai ketidakberpihakan terhadap masyarakat," ujar Bambang kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (12/1/2019). 
 
Tarif pesawat memang sedang dikeluhkan masyarakat. Konsumen yang sering menggunakan jasa transportasi udara menganggap tarif masih terlalu tinggi.
 
Padahal, musim libur Natal dan Tahun Baru 2019 sudah lewat. Petisi untuk menurunkan tarif pesawat pun digulirkan.
 
Tingginya biaya operasional menjadi salah satu alasan maskapai penerbangan memasang tarif mendekati batas atas. Tarif belum ditekan ke batas bawah demi menghindari kerugian.
 
Garuda Indonesia menjadi salah satu pihak yang disinggung dalam petisi tersebut. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan, beban operasional menjadi alasan Garuda menjual tiket pada kisaran harga batas atas seperti saat ini.
 
Dia menjelaskan, harga avtur menjadi salah satu beban yang besar dalam biaya operasional. "Avtur sudah naik 30 persen dibandingkan negara tetangga. Avtur Indonesia memang lebih tinggi dibandingkan negara tetangga," ujar Ikhsan, Jumat (11/1).
 
Ikhsan mengatakan, biaya operasional lainnya, seperti pajak bandara, juga mengalami kenaikan. Dengan kondisi ini, kata dia, maskapai harus berani mengambil pilihan untuk terus eksis atau bangkrut.
 
"Makanya itu, harga yang harus kami jual di batas atas. Harga promo sedang direm, tapi untuk rute-rute tertentu masih kami terapkan," Ikhsan menjelaskan.
 
Faktor lainnya, kata dia, Garuda Indonesia merupakan maskapai dengan golongan full service yang berarti penumpang membayar layanan yang diberikan.
 
Dia mengungkapkan, kondisi maskapai penerbangan sedang megap-megap. Kerugian tak hanya dialami Garuda, tetapi juga banyak maskapai lainnya. Meski begitu, Ikhsan menegaskan, Garuda tak perlu mengumumkan kinerja keuangan karena bukan perusahaan terbuka.