JAKARTA – Para dokter yang menangani Stephen Hawking sempat memperkirakan bahwa usianya tidak akan panjang, akan tetapi fisikawan ternama asal Inggris tersebut meninggal dunia pada usia 76 tahun.

Seperti dilansir Guardian, Rabu (14/3/2018), pada tahun 1963, Hawking didiagnosa menderita penyakit motor neuron saat usianya 21 tahun. Kala itu para dokter memperkirakan dia hanya akan hidup hingga dua tahun lagi. Akan tetapi ternyata dia menderita jenis penyakit yang berkembang lebih lambat dari biasanya. Dia berhasil hidup lebih dari setengah abad.

Stephen Hawking yang lahir pada 8 Januari 1942 dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, serta radiasi Hawking.

Salah satu tulisannya yaitu A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut.

Pada September 2010, media Inggris, The Telegraph memberikan laporan, "Stephen Hawking telah menyatakan kalau Tuhan bukanlah pencipta alam semesta". Hawking menulis dalam bukunya, The Grand Design, bahwa "Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada 'sesuatu' dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakkan alam semesta."

Pada Rabu (14/3) pagi waktu setempat, pihak keluarga Hawking mengumumkan kematian ilmuwan terkenal tersebut. "Kami sungguh sedih bahwa ayah kami yang tercinta telah meninggal dunia hari ini," ucap anak-anak Hawking, Lucy, Robert dan Tim dalam pernyataan.

"Dia seorang ilmuwan yang hebat dan pria luar biasa yang kinerja dan peninggalannya akan hidup untuk bertahun-tahun ke depan," imbuh pernyataan itu.