BREAKINGNEWS.CO.ID - Dewan Perwakilan Amerika Serikat (AS) meminta rincian informasi komunikasi antara Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan melayangkan surat kepada pihak Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri.

Surat yang ditandatangani oleh Ketua Komite Intelijen, Adam Schiff; Kepala Komite Hubungan Luar Negeri, Eliot Engel; dan Kepala Komite Pengawasan, Elijah Cumming, tersebut ditujukan kepada Kepala Staf Gedung Putih, Mick Mulvaney, dan Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo. "[Kami] meminta substansi komunikasi Trump dengan Putin, termasuk diskusi apapun terkait kedua individu tersebut dalam hubungan langsung dan telepon, mengenai hal-hal yang menjadi yurisdiksi komite," demikian kutipan surat tersebut, seperti dilansir CNN, Selasa (5/3/2019).

Melalui surat yang dilihat CNN tersebut, Dewan Perwakilan AS juga meminta jadwal wawancara dengan staf Gedung Putih, Kantor Eksekutif Presiden, dan Kementerian Luar Negeri. Para pemimpin Dewan Perwakilan tersebut kemudian menjabarkan topik-topik yang mereka incar, termasuk apabila ada seseorang yang mencoba "menutupi", "menyamarkan", atau "memutarbalikkan" keadaan kontak dengan Putin.

Mereka juga ingin mengetahui apabila ada komunikasi dengan Putin yang membawa dampak pada kebijakan luar negeri AS di bawah Trump. CNN sudah menghubungi Gedung Putih, akan tetapi belum ada tanggapan lebih lanjut. Sementara itu, Kemlu AS memberikan konfirmasi bahwa mereka sudah menerima surat tersebut dan "akan bekerja sama secara kooperatif dengan komite."

Permintaan ini datang pada hari yang sama ketika ketua bidang kehakiman Dewan Perwakilan, Jerry Nadler, mengumumkan penyelidikan besar-besaran terhadap kampanye, bisnis, transisi, dan pemerintahan Trump. Sebagai bagian dari penyelidikan tersebut, komite kehakiman mengirimkan surat kepada 81 orang dan entitas, termasuk ke Gedung Putih, Kementerian Kehakiman, pejabat senior kampanye, staf Trump Organization, dan anak-anak sang presiden.

Penyelidikan ini digencarkan menjelang penyampaian hasil penyelidikan jaksa Robert Mueller, yang ditunjuk khusus untuk menyelidiki dugaan campur tangan Rusia demi kemenangan Trump dalam pemilu 2016.