JAKARTA - Tidak dipungkiri telah luas beredar di masyarakat anggapan bahwa hubungan seksual dengan wanita muda, yang kerap disebut "daun muda", dapat membuat orang menjadi lebih perkasa dan awet muda. Tidak ada dasar ilmiah yang membenarkan bahwa hubungan seksual dengan anak muda akan menyebabkan awet muda. Anggapan ini jelas salah dan hanya merupakan suatu mitos.

Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang sehingga menjadi sehat dan awet muda. Faktor itu antara lain keteraturan irama hidup, ada tidaknya gangguan atau penyakit, ada tidaknya gangguan psikik, dan faktor genetik. Irama hidup yang tidak teratur akan berpengaruh terhadap pola makan, waktu kerja, dan waktu istirahat.

Keadaan ini akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga menjadi tidak sehat dan tampak lebih tua dari usianya. Demikian juga bila terdapat gangguan fisik dan psikik, tubuh menjadi tidak sehat dan penampilan cenderung tampak lebih tua. Pengaruh faktor genetik juga sangat menentukan bagi penampilan fisik seseorang.

Berdasarkan faktor tersebut, tidak tampak pengaruh hubungan seksual dengan orang muda terhadap kesehatan dan penampilan yang awet muda. Bahkan kalau hubungan seksual itu berisiko tinggi, khususnya berupa penularan Penyakit Menular Seksual, justru penyakitlah yang didapat.

Tetapi mitos itu memang telah beredar luas, dan diyakini oleh banyak orang, karena pengetahuan seksual yang kurang. Bahkan tidak sedikit pekerja seks yang membujuk anak jalanan agar terangsang dan mau melakukan hubungan seksual sebagai "obat awet muda" walaupun belum muncul istilah "batang muda".

Tentu saja fenomena ini sangat merugikan bahkan membahayakan bagi anak-anak jalanan itu. Kemungkinan tertular Penyakit Menular Seksual (penyakit kelamin) sangat besar. Kalau penyakit yang menularinya adalah penyakit yang biasa dan mudah disembuhkan, mungkin bukan suatu masalah besar. Tetapi bagaimana kalau anak-anak itu tertular HIV/AIDS?

Memang banyak mitos tentang seks yang beredar luas di masyarakat. Di tengah masyarakat yang pengetahuan seksualnya rendah, mitos tentang seks dapat tumbuh subur dan diyakini sebagai suatu kebenaran.

Salah satu mitos lain tentang seks ialah hubungan seksual yang dilakukan seringkali dapat membuat orang awet muda dan panjang umur. Sama seperti mitos hubungan seksual dengan "daun muda", maka mitos inipun tidak punya dasar ilmiah sehingga tidak seharusnya dipercaya.

Frekuensi hubungan seksual ditentukan oleh dorongan seksual, keadaan kesehatan tubuh, faktor psikik, dan pengalaman seksual sebelumnya. Tentu saja faktor tersebut juga berlaku bagi pasangannya. Karena itu frekuensi hubungan seksual tidak dapat ditentukan dengan pasti karena tergantung kepada kemauan dan kemampuan setiap pasangan.

Panjang dan tidaknya usia seseorang tidak ditentukan oleh seringnya melakukan hubungan seksual. Jadi bukan berarti semakin sering melakukan hubungan seksual, usia menjadi semakin panjang sehingga menjadi panjang umur. Justru sebaliknya yang mungkin terjadi. Karena faktor di atas mendukung, termasuk kesehatan tubuh, maka hubungan seksual sering dilakukan. Tetapi bila seseorang memaksa diri melakukan hubungan seksual yang sering padahal mengalami gangguan fisik tertentu, tentu bukan panjang umur yang dirasakan.

Beberapa faktor yang menentukan usia harapan hidup seseorang ialah keadaan kesehatan tubuh dan jiwa, keadaan sosial ekonomi, keadaan gizi, dan faktor lingkungan khususnya yang berkaitan dengan kesehatan. Kalau faktor tersebut mendukung, maka usia harapan hidup menjadi lebih panjang. Sebagai contoh, karena keadaan kesehatan dan sosial ekonomi masyarakat lebih baik, maka usia harapan hidup saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pada masa awal kemerdekaan.