JAKARTA - Terkait ucapan Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerindra Fadli Zon soal cuitannya di Twitter yang dinilai menghina Khatib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Staquf (Gus Yahya). Cuitannya tersebut juga dinilai merugikan Prabowo Subianto dan menguntungkan Joko Widodo (Jokowi). Tanggapan tersebut datang dari Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penelitian Pendidikan Penerapan Ekonomi dan Sosial Rustam Ibrahim.

"Ucapan @fadlizon yang dinilai menghina Khatib Aam PB NU Yahya Staquf (Gus Yahya) terkait kunjungan ke Israel, menurut pendapat saya makin menjauhkan NU dari memilih Prabowo Subianto dan makin mantap bersama Jokowi. Ucapan-ucapan Fadli Zon sering terkesan memperbanyak lawan dari kawan," tulis Rustam Ibrahim di Twitter, Rabu (13/6/2018).

Menurutnya, kalangan Nahdliyin dinilai lebih Islami daripada kalangan yang selalu mengklaim paling Islami. "Menurut penilaian saya, sikap dan perilaku, lisan dan pebuatan kader-kader NU dan kaum Nahdhliyin pada umumnya jauh lebih Islami, daripada mereka yang mengklaim paling Islami. Tapi penuh kemarahan dan kebencian, suka memaki, menghina dan merendahkan sesama Muslim," tulis Rustam.

Yahya Staquf

Seperti diberitaan sebelumnya, Yahya Staquf yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden secara pribadi menghadiri kegiatan yang diselenggarakan American Jewish Committee Global Forum di Yerusalem pada 10 -13 Juni 2018. Di forum itu, Yahya Staquf, antara lain menyampaikan kedatangannya untuk menindaklanjuti upaya mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam membangun toleransi antar umat beragama.

Melalui akun Twitternya, Fadli Zon mengatakan: "Cuma ngomong begitu doang ke Israel. Ini memalukan bangsa Indonesia. Tak ada sensitivitas pada perjuangan Palestina. #2019GantiPresiden." Sikap tersebut membuat kader Gerindra Mohammad Nuruzzaman dari marah dan memutuskan keluar dari Gerindra, Selasa (12/6/2018).

"Hari ini, 12 Juni 2018, saya marah. Kemarahan saya memuncak karena hinaan saudara Fadli Zon kepada kyai saya, KH Yahya Cholil Staquf terkait acara di Israel yang diramaikan dan dibelokkan menjadi hal politis terkait isu ganti Presiden. Bagi santri, penghinaan pada kyai adalah tentang harga diri dan marwah, sesuatu yang Pak Prabowo tidak pernah bisa paham karena Bapak lebih mementingkan hal politis saja. Akhir kata, saya Mohammad Nuruzzaman, kader Gerindra hari ini mundur dari Partai Gerindra dan saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elit busuknya sampai kapan pun," tulis Nuruzzaman di Twitter.

Lewat Twitter ketika menanggapi berita media online tentang keputusan Nuruzzaman, Fadli Zon mengklarifikasi: "Seingat saya ia sudah lama tak aktif di dan bukan Wakil Sekjen. Kabarnya memang mau pindah partai. @Gerindra selalu berjuang untuk Indonesia Raya," tulis Fadli Zon.