JAKARTA - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo siap memfasilitasi uji kompetensi wartawan parlemen dengan Dewan Pers. Ini disampaikan Bamsoet saat buka bersama dengan wartawan parlemen di rumah dinas Ketua DPR RI, kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Jumat (8/6/2018).

Semangat Bamsoet untuk memfasilitasi uji kompetensi wartawan parlemen berawal dari keluhan wartawan yang selama ini dituntut mempunyai sertifikasi. Tetapi, ternyata banyak perusahaan pers yang tidak membiayai, sehingga dibebankan ke wartawan itu sendiri secara pribadi.

“Sekarang ini, kita wartawan dituntut harus mempunyai sertifikat wartawan melalui uji kompetensi di dewan pers. Tetapi, biaya untuk ikut itu kan mahal. Sementara dari kantor tidak bisa atau tidak mau membiayai. Ini menjadi masalah bagi kami,” ujar seorang wartawan saat sesi tanya jawab setelah buka puasa.

Bamsoet pun kaget. Karena ternyata dari wartawan yang hadir, banyak yang belum mempunyai sertifikasi sebagai wartawan. Padahal, perusahaan mereka bekerja sudah mempunyai sertifikasi sebagai perusahaan pers.

“Oke, nanti silakan didata ya untuk teman-teman yang meliput di DPR yang belum ikut uji kompetensi. Nanti saya fasilitasi. Jadi nanti bisa bareng-bareng semua ujiannya,” ujar Bamsoet yang langsung disambut tepuk tangan.

Seperti diketahui, biaya untuk mengikut uji kompetensi wartawan sejauh ini rata-rata hampir Rp 3 juta. Biaya inilah yang menjadi hambatan para wartawan untuk ikut ujian, terutama atas biaya sendiri.

Dalam kesempatan tersebut, Bamsoet juga menceritakan pengalaman serta kenangannya terhadap wartawan senior Derek Manangka yang ketika itu menjabat redaktur Harian Prioritas dan baru saja meninggal dunia akibat serangan jantung tiga pekan lalu. Saat itu Bamsoet masih menjadi wartawan pemula yang penuh perjuangan dalam mengejar dan menunggu narasumber.

“Suatu waktu, saya kembali ke kantor. Tapi kemudian sama Bang Derek di pager (alat komunikasi sebelum ada telepon genggam). Bambang, kamu jangan pulang dulu. Kamu kejar menteri yang menangani masalah ekonomi. Minta konfirmasi. Infonya ekonomi kita sedang gawat. Ini A1, kamu kejar ya sampai dapat. Jangan kembali ke kantor kalau belum dapat,” tutur Bamsoet.

Bamsoet kemudian menuju kantor Menkeu di lapangan Banteng, karena disitu sedang ada rapat terbatas. Saat itu tidak ada satupun menteri yang bersedia keluar untuk melayani wartawan. Salah satu cara mendapat info itu adalah menunggu di dalam toilet, karena para menteri pasti akan ke toilet pada saat-saat tertentu.

“Saya bingung juga gimana dapatnya, kan mereka sedang rapat. Ah tungguin aja di toilet. Pasti mereka akan kesitu juga nanti,” kata Bamsoet terkekeh.

Akhirnya salah satu menteri yaitu Joop Ave (saat itu menjabat Menteri Pariwisata) keluar untuk buang air kecil. Di dalam toilet, Bamsoet berhasil mendapatkan secara eksklusif soal info ekonomi Indonesia sedang gawat saat itu.

“Yang penting, jadi wartawan harus semangat dan jangan mudah menyerah. Pasti akan dapat info yang kalian kejar,” ujar Bamsoet.

Acara buka bersama itupun diakhiri dengan foto bersama. Ada yang minta berfoto berdua, bersama hingga merekam video dengan model boomerang. Kesempatan itu juga dimanfaatkan sejumlah wartawan untuk meminta greeting ucapan hari raya idul fitri. Semua berlangsung cair dan akrab. Tidak ada sekat dan formalitas antara jurnalis dan Ketua DPR.