JAKARTA - Terkait dengan pembukaan kedutaan Amerika Serikat di Taiwan, pemerintah Cina memberikan kecaman terhadap pembukaan tersebut. American Institute in Taiwan (AIT), de facto Kedubes AS di Taipei, resmi dibuka, Selasa (12/6/2018), peresmiannya dihadiri oleh para diplomat AS dan juga Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen.

"Amerika Serikat mengirim pejabat ke Taiwan dengan alasan apa pun merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip 'satu Cina'," kata Geng Shuang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina. "Hal ini mengganggu urusan internal Cina dan berdampak negatif terhada hubungan Cina-AS. Kami mendesak AS untuk mematuhi janjinya kepada Cina dan memperbaiki kesalahannya untuk menghindari rusaknya hubungan Cina-AS dan perdamaian di Selat Taiwan."

Cina menganggap Taiwan sebagai wilayahnya yang memberontak, walaupun pulau itu mempunyai pemerintahan sendiri. Dalam pidato pembukaanya, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Pendidikan serta Kebudayaan, Marie Royce menggambarkan gedung lima lantai yang luas, dan menelan biaya sekitar 255 juta dolar AS atau sekitar 3,5 triliun rupiah sebagai lebih dari sekadar batu-bata dan mortir.

"Rumah baru AIT adalah simbol nyata yang mencerminkan kuatnya hubungan kita, dan fasilitas seni akan memungkinkan kerja sama yang lebih besar di masa mendatang," kata Royce seperti dilansir CNN, Rabu (13/6).

Satu Cina 

Seperti kebanyakan negara di dunia, AS resmi berpegang pada kebijakan "Satu Cina", mengakui Taiwan menjadi bagian dari Cina dan mempertahankan hubungan diplomatik formal hanya dengan Beijing. Walaupun demikian, Taiwan merupakan sekutu Amerika yang penting di kawasan tersebut. Di bawah Presiden Donald Trump, hubungan tidak resmi antara AS serta Taiwan semakin kuat.

"Sebagai negara demokratis yang bebas dan terbuka, kami berkewajiban untuk bekerja sama guna mempertahankan nilai-nilai dan melindungi kepentingan bersama kita," kata Presiden Taiwan Tsai pada upacara pembukaan. "Selama kita bersama, tidak ada yang bisa terjadi di antara kita."

Terlepas dari kecaman Cina, AS terus menjual senjata canggih kepada Taiwan, di bawah Undang-undang Hubungan dengan Taiwan, untuk mempertahankan diri dari militer Cina yang jumlahnya jauh lebih besar. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump juga membuat marah Beijing dengan memberi wewenang kepada produsen AS untuk menjual teknologi kapal selam ke Taiwan. AS juga memberlakukan Undang-undang Travel Taiwan yang mendorong kunjungan resmi antara AS dan Taiwan.