BREAKINGNEWS.CO.ID - Rekonsiliasi Presiden Joko Widodo dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto membuat sebagain PA 212 kebakaran jenggot. Bahkan pertemuan Sabtu (13/7/2019) di MRT, Jakarta itu dianggap Wakil Ketua PA 212 Asep Syarifudin sebagai bentuk pengkhianatan Prabowo terhadap mereka.

"Jadi, kalau Prabowo berkomunikasi (dengan Jokowi), menurut saya ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap aspirasi umat dan rakyat," ungkap Asep dalam diskusi yang digelar di Gedung Joeang, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2019). Asep Syarifudin juga menyatakan bahwa Prabowo dianggap mengabaikan aspirasi umat, termasuk PA 212.

Asep Syarifuddin menyebut PA 212 dan sejumlah ulama pada Pilpres 2019 mendukung Prabowo – Sandiaga Uno karena selama ini ia dinilai bisa membela dan mengakomodasi kepentingan mereka. Jokowi sendiri dianggapnya sebagai sosok yang anti-Ulama.

Dirikan Khilafah 

Kecewa atas pertemuan itu, Asep Syarifudin juga mengharapkan khilafah bisa tegak berdiri di Indonesia. Menurutnya, khilafah atau sistem kenegaraan yang berlandaskan ajaran Islam itu tidak terlarang. Asep mengungkapkan, dirinya telah banyak belajar terkait konsep sistem kenegaraan berlandasan Islam. Justru dirinya menilai, kalau menolak khilafah, sama artinya menodai agama.

Menurut Asep, khilafah adalah sistem politik serta menjadi salah satu bagian syariat Islam."Harapan saya 2024 khilafah tegak di Indonesia. Khilafah itu adalah syariat Islam. Kalau menolak khilafah itu menolak syariat Islam. Itu penodaan agama," ungkap Asep.

Alasan Asep yang menginginkan khilafah tegak di Indonesia itu adalah, karena sistem kenegaraan di Indonesia saat ini belum bisa mengamankan kedaulatan agama. Melihat kondisi itu Asep sangat menginginkan khilafah dapat tegak berdiri di Indonesia pada masa mendatang. "Sistem itu dalam masyarakat iya tapi untuk konteks amankan kedaulatan agama belum tentu."

Hingga kini belum ada respon pemerintah atau pihak Prabowo mengenai pernyataan Asep tersebut. Namun antara Jokowi dengan Prabowo sudah bersepakat dan meminta para pendukungnya masing-masing berhenti berseteru. Prabowo dan Jokowi sama-sama memberikan pernyataan tak lagi ada istilah cebong versus kampres yang marak saat Pilpres 2019.