BREAKINGNEWS.CO.ID - Adobe Photoshop adalah program yang telah lama dipilih oleh mereka yang suka mengolah dan menyunting foto maupun gambar. Lengkapnya fitur yang ditawarkan memungkinkan pengguna untuk memanipulasi gambar dengan kualitas yang terbilang bagus.

Namun, kemampuan manipulasi gambar tersebut menjadi masalah baru pada era media sosial saat ini. Banyak foto dan gambar yang telah dimanipulasi diunggah sekadar untuk membuat sesuatu menjadi viral tanpa memverifikasi kebenarannya.

Platform media sosial seperti Facebook dan Twitter, juga raksasa peramban Google, telah meningkatkan upaya untuk melawan informasi palsu (hoaks), termasuk foto dan gambar, yang beredar di halaman mereka.

Kini, seperti dilansir Gadget360 (25/6/2018), Adobe turut membantu dengan mengembangkan sebuah perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mengidentifikasi gambar yang telah dimodifikasi atau dimanipulasi.

Salah satu kelebihan teknologi penyunting gambar adalah memungkinkan orang untuk menyunting foto hingga pada tingkat di mana mereka yang mengamati tak bisa menentukan apakah itu foto asli atau telah diedit.

Kelebihan itu sekarang menjadi kekurangan karena foto-foto palsu tersebut bisa mengelabui banyak orang, terutama pengguna media sosial.

Dengan tambahan AI, Adobe akan membantu pengguna untuk bisa mengetahui apakah sebuah gambar telah disunting sedemikian rupa atau tidak, sekaligus bisa menilai keaslian foto.

Sebenarnya, alat forensik telah lama digunakan untuk menemukan jejak seperti ini dengan melihat distribusi derau (noise), inkonsistensi pada tingkat piksel, dan pencahayaan. Namun, Adobe percaya bahwa kecerdasan buatan dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik, lebih cepat serta lebih dapat diandalkan.

Menurut Ilmuwan senior penelitian Adobe, Vlad Morariu, upaya untuk mendeteksi manipulasi gambar telah dilakukan mereka sebagai bagian dari program DARPA Media Forensik sejak 2016. Penelitiannya menunjukkan manipulasi gambar dapat dideteksi menggunakan serangkaian mode.

"Kami fokus pada tiga teknik umum, yaitu pertama splicing, dua gambar yang berbeda digabungkan; Kedua copy move yaitu objek dalam foto dipindahkan dari tempat satu ke tempat lain; dan ketiga adalah removal yang berarti objek dihapus dari sebuah foto dan menggantinya dengan sesuatu yang lain," katanya sembari menjelaskan ilmu di balik deteksi.

“Masing-masing teknik itu cenderung menyisakan artefak tertentu, misalnya kontras yang kuat pada bagian sudut, area yang halus tidak wajar, atau pola derau yang berbeda,” jelas Morariu pada Petapixel (23/6/2018).

“Dengan memakai puluhan ribu contoh foto hasil manipulasi yang telah diketahui, kami berhasil melatih AI deep learning neural network untuk mengenali foto yang telah dimanipulasi,” imbuhnya.

Lalu bagaimana dengan cara kerjanya?

Para peneliti di Adobe bekerja sama dengan para peneliti dari Universitas Maryland memberikan kepada AI ribuan gambar palsu dan mengajarkan perangkat lunak apa yang sebenarnya dicari.

Mereka melatih perangkat lunak untuk mendeteksi modifikasi pada gambar dan menandai area yang telah diubah, serta AI dapat menyelesaikan ini dalam hitungan detik. Demikian dinukil Tech Times (23/6/2018).

Salah satu metode yang digunakan perangkat lunak dalam menemukan gambar palsu adalah dengan mencari perbedaan pada warna merah, hijau, dan warna biru piksel dalam gambar yang diubah.

Metode lain yang digunakan sistem untuk menemukan gambar palsu adalah dengan menghasilkan peta derau dari gambar.

Derau, variasi warna, dan kecerahan acak yang disebabkan oleh sensor kamera merupakan pola unik pada kamera atau foto. Karena pola uniknya, objek yang telah disambung dari gambar lain akan menonjol ketika peta derau dihasilkan, memungkinkan AI untuk menangkap ketidakkonsistenan.

"The Associated Press dan organisasi berita lainnya menerbitkan panduan untuk menyunting foto digital yang sesuai untuk media berita," kata Direktur Adobe Research, Jon Brandt.

“Saya pikir salah satu peran penting yang dapat dimainkan Adobe adalah mengembangkan teknologi yang membantu mereka memantau dan memverifikasi keaslian sebagai bagian dari proses mereka."

Adobe mengingatkan bahwa meskipun teknik ini jauh dari sempurna, mereka "memberikan lebih banyak kemungkinan dan lebih banyak pilihan untuk mengelola dampak manipulasi digital, dan mereka berpotensi menjawab pertanyaan tentang keaslian secara lebih efektif."

Mereka juga ingin agar pengguna tetap melakukan verifikasi. "Sangat penting untuk mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab, namun pada akhirnya teknologi ini diciptakan untuk melayani masyarakat."

"Sebagai konsekuensinya, kita semua berbagi tanggung jawab untuk mengatasi potensi dampak negatif teknologi baru melalui perubahan pada institusi dan konvensi sosial kita." pungkas Brandt.