BREAKINGNEWS.CO.ID - Setelah Boris Johnson terpilih menjadi perdana menteri (PM) Inggris melalui pemungutan suara internal partai berkuasa, Partai Konservatif, dirinya tidak hanya mendapatkan sambutan hangat, tetapi juga dibanjiri peringatan dari para pemimpin dunia.

Sebagai pendukung setia Johnson, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menjadi pemimpin dunia yang paling cepat mengucapkan selamat kepada sang perdana menteri baru. "Selamat kepada Boris Johnson karena sudah menjadi perdana menteri baru untuk Inggris. Dia akan bekerja dengan hebat!" kicau Trump melalui akun Twitter pribadinya, yang dikutip Rabu (24/7/2019).

Trump memang selalu mengaku sebagai "penggemar" Johnson. Menurutnya, Johnson dapat menyelamatkan Inggris dari "bencana" yang dibawa Perdana Menteri Inggris sebelumnya, Theresa May saat melakukan negosiasi keluar dari Uni Eropa atau Brexit. "Dia memang sangat berbeda, tapi mereka juga bilang saya berbeda. Kami sangat akrab. Saya rasa kami akan memiliki hubungan yang baik," ujar Trump.

Sama seperti Trump, Johnson juga kerap menuai kritikan di dalam negeri dikarenakan pendekatannya yang ekstrem, termasuk dalam urusan negosiasi Brexit. Loyalis May ingin Inggris keluar dari Uni Eropa dengan masih mempertahankan sejumlah kerja sama ekonomi. Sementara itu, Johnson berjanji bakal membawa Inggris keluar dari blok tersebut tanpa kesepakatan apa pun.

Setelah terpilih, Johnson pun harus langsung menentukan arah Inggris menjelang tenggat negosiasi Brexit pada 31 Oktober mendatang. "Selamat kepada Boris Johnson karena terpilih sebagai perdana menteri. Saya menanti dapat bekerja sama baik dengannya," ucap ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.

Melanjutkan pernyataannya, von der Leyen berkata, "Ada banyak isu berbeda dan sulit yang harus dihadapi bersama. Masa-masa berat menanti kita." Senada dengan von der Leyen, negosiator Uni Eropa untuk Brexit, Michel Barnier, menyatakan, "Kami akan bekerja secara konstruktif dengan PM Boris Johnson ketika ia resmi menjabat, untuk memfasilitasi ratigikasi Kesepakatan Keluar dan mencapai Brexit yang sesungguhnya."

Sejumlah pemimpin negara anggota Uni Eropa lainnya juga mengharapkan hal yang sama dari Johnson, termasuk Presiden Prancis, Emmanuel Macron. "Saya sangat ingin bekerja sama sesegera mungkin dan bukan hanya terkait masalah Eropa dan kelanjutan negosiasi Brexit, tapi juga isu-isu internasional yang berhubungan langsung dengan Inggris dan Jerman, seperti situasi di Iran," katanya.

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, pun mengeluarkan pernyataan senada, sembari mengingatkan masalah sengketa di pesisir Teluk Persia. "Saya mengucapkan selamat kepada @BorisJohnson yang sudah menjadi PM Inggris. Iran tidak mencari konfrontasi, tapi kami punya 1.500 mil di pesisir Teluk Persia. Itu adalah perairan kami dan kami akan menjaganya," tutur Zarif melalui Twitter.

Tak hanya luar negeri, Johnson juga menghadapi tekanan besar di Inggris, terutama dari kubu pendukungnya yang berharap ia tetap memenuhi janji untuk mengeluarkan negara tersebut dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apa pun. "Saya harap Boris Johnson dapat menjadi PM yang baik dengan janji 'lakukan atau mati'-nya untuk melakukan Brexit pada 31 Oktober," kata ketua Partai Brexit, Nigel Farage. Farage kemudian berkata, "'Lakukan atau mati' itu bukan hanya untuk Brexit, tapi juga masa depan Partai Konservatif. Apakah dia punya keberanian untuk melayani negara?"