BREAKINGNEWS.CO.ID – Sekelompok teroris diduga melakukan ledakan bom ranjau darat di wilayah dekat perbatasan dengan Aljazair. Ledakan ranjau darat yang terjadi pada Minggu (8/7/2018) pukul 11:45 waktu setempat menewaskan enam tentara Tunisia yang sedang melakukan patroli di perbatasan tersebut.

"Patroli penjaga perbatasan di daerah Ain Sultan di provinsi perbatasan Jendua terkena serangan ranjau darat yang menewaskan enam prajurit," demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Tunisia seperti dilansir AFP.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Tunisia, Jenderal Sufyan al-Zaq menuturkan ledakan ranjau berasal dari serangan teroris. Tidak lama setelah ranjau meledak para penyerang melepaskan tembakan ke arah prajurit patroli perbatasan. "Upaya penyisiran sedang dilakukan," kata Zaq.

Serangan ini terjadi saat Tunisia tengah mempersiapkan diri menghadapi libur musim panas untuk para turis. Hingga saat ini belum ada kelompok teroris yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan di perbatasan tersebut . Akan tetapi, sejak 2011, serangan kelompok 'jihadis' telah menewaskan puluhan pasukan keamanan dan 59 wisatawan asing. Tunisia sendiri masih berada dalam status darurat sejak November 2015, ketika bom bunuh diri di Tunis, ibu kota negara tersebut, menewaskan 12 pasukan pengawal presiden. Saat itu ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut .

Serangan tersebut menjadi serangan terbesar ketiga yang terjadi di Tunisia tahun 2015. Pada Juni 2015 lalu, militan membunuh 28 wisatawan asing di hotel pinggir pantai di Sousse, dan pada Maret 21 orang tewas dalam serangan di Museum Bardo, Tunis. ISIS mengklaim berada di balik dua serangan sebelumnya.

Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi membatalkan lawatan ke Eropa dan menerapkan jam malam hingga Rabu pukul 5 pagi. Essebsi kembali menerapkan keadaan darurat selama satu bulan, yang memungkinkan pemerintah memiliki kekuatan eksekutif yang fleksibel, kewenangan aparat keamanan yang lebih luas dan membatasi beberapa hak sipil. Memerangi militan telah menjadi tantangan besar bagi Tunisia, terutama setelah ribuan warga negara itu bergabung dengan ISIS dan kelompok militan lainnya di Suriah, Irak dan Libya.