BREAKINGNEWS.CO.ID -  Tidak mudah melakukan sebuah pembinaan dan menggiring anak-anak ke wilayah kreativitas Tari Kontemporer. Perlu  ketulusan, semangat, komitmen, dan dedikasi untuk sebuah perubahan, serta pengorbanan dalam banyak hal, termasuk waktu dan materi.  Dari akumulasi semua  itu, oleh  Alfiyanto, seorang pegiat seni yang juga dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung  berhasil ditransformasikan menjadi energy dalam sebuah metode pelatihan.

Energi tersebut bernama  Pondok Wajiwa, sebuah arena  kesenian, tempat berkumpulnya warga kampong Ciganitri, Bandung dalam menyalurkan energy kreatif, terutama untuk anak-anak mereka.

Berawal dari pembekalan tari tradisi, sejak usia anak-anak  mereka sudah mulai  digiring ke ranah kreativitas tari kontemporer  dengan metode khusus karya pupuhunya Alfiyanto Wajiwa (nama senimannya).

Kalau semula, paparan energy tersebut hanya beredar di sekitar  Pondok Wajiwa  yang juga kediaman sang guru tari. Sekarang yang menangkap semangat tersebut sudah melebar jauh, karena semangat yang dimiliki  juga mengalir sampai ke wilayah Kota/Kabupaten di tataran Sunda, bahkan lebih luas lagi Provinsi Jawa Barat dan Nasional.

Menjadi guru untuk anak-anak sekitar, sekaligus pelaku seni yang masih minim penghargaan tentu  meniscayakan komitmen dan totalitas, sehingga rela rugi dari pada untung adalah sebuah hal biasa. Namun semua itu, tak menjadi halangan bagi pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat ini.

Dirinya  selalu bergerak dan mengalir tanpa henti bersama anak-anak Wajiwa dari usia dini, remaja, sampai dewasa. Telah banyak karya tari yang telah dihasilkan, hampir semuanya berangkat dari gagasan-gagasan kepedulian sosial. Sebuah kepekaan dan sensitivitas yang luarbiasa dalam menggali, mengungkapkan, dan menggugah empati orang banyak untuk sebuah perubahan.

Saat ini, setelah  13 tahun perjalanan Wajiwa (2006 - 2019),  sebuah metode pelatihan kreativitas tari kontemporer untuk anak-anak telah ia hasilkan.  Tak hanya untuk anak-anak, metode ini juga  bisa digunakan  bagi  kelompok usia  remaja dan dewasa.

Metode tersebut adalah Literasi Tari WaJiWa, yang mencakup Literasi Tubuh, Literasi Rasa, Literasi Khayal.  Nama  spesifik belum diberikan, kecuali untuk sementara waktu disebut dengan  nama "Priang Wajiwa", karena dalam prosesnya, metode itu masih memerlukan sedikit penyempurnaan. Alfiyanto menyebut jika metodenya ini  merupakan proses panjang yang dimulainya sejak tahun 2014.

Meski belum dipublikasikan,  metode Priang Wajiwa ini sudah di terapkan kepada siswa-siswa Wajiwa dari usia anak-anak (Wajiwa Junior) sampai usia remaja dan dewasa (Wajiwa Senior).

Eksperimen demi eksperimen Metode "Priang Wajiwa" selalu di lakukan di Rumah Kreatif Wajiwa untuk menemukan sesuatu yang lebih baik lagi untuk perkembangan anak didiknya sendiri di Wajiwa yang nantinya dapat di tularkan lebih luas lagi sampai keluar Wajiwa itu sendiri.

Melalui metode Wajiwa, Alfiyanto telah berhasil menggiring anak-anak ke ranah kreativitas tari kontemporer. Sekilas memang terasa biasa-biasa saja, tapi dibalik itu semua terdapat manfaat yang cukup besar bagi anak-anak, yaitu menggali kecerdasan tubuh, kecerdasan rasa, dan kecerdasan khayal dan emosi.