SLEMAN - Status Gunung Merapi meningkat menjadi waspada pasca erupsi freatik yang terjadi sebanyak tiga kali pada Senin (21/5/2018) kemarin. Akibatnya, pengungsi pun semakin bertambah, bahkan jumlah pengungsi mencapai ribuan orang.

Berdasarkan data dari Pusdalops BPBD Sleman, total sebanyak 1.522 warga Kabupaten Sleman mengungsi. Adapun rinciannya, sebanyak 371 jiwa mengungsi di Balai Desa Glagaharjo, Huntap Singlar 19 jiwa, rumah Dukuh Kalitengah Lor 44 jiwa, rumah Dukuh Kalitengah Kidul 20 jiwa, SD Sanjaya Tritis 510 jiwa, Balai Desa Argomulyo 200 jiwa, Balai Desa Umbulharjo 200 jiwa, Barak Koripan Sindumartani 58 jiwa, Kecamatan Cangkringan 100 jiwa. Sedangkan kondisi Selasa (22/5/2018) pukul 08.00 WIB, sebanyak 66 jiwa masih berada di titik kumpul aman, yakni di Huntap Singlar 3 jiwa (lansia), rumah Dukuh Kalitengah Lor 52 jiwa, rumah Dukuh Kalitengah Kidul 1 lansia, dan SD Sanjaya Tritis 10 jiwa (5 balita, 1 lansia, 4 dewasa).

Namun, sebanyak 388 warga di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman yang semalam mengungsi kini memilih pulang. "Pagi ini warga kembali ke atas (ke rumah)," kata Kaur Pemerintahan Desa Glagaharjo, Heri Prasetyo. Ratusan warga tersebut memutuskan kembali ke rumah masing-masing yakni untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Aktivitas tersebut diantaranya mencari pakan ternak, bersih-bersih rumah akibat terkena hujan abu, hingga anak-anak kecil kembali masuk sekolah. W

arga yang mengungsi semalam berasal dari sejumlah dusun, di antaranya Dusun Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Srunen, dan Singlar. Pihak pemerintah desa pun mempersilahkan warga kemnali beraktivitas. Namun, warga tetap diimbau waspada dan siap untuk dievakuasi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi Merapi. "Petugas dan relawan di lapangan tetap mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan siap jika sewaktu-waktu diminta mengungsi lagi," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan.