BREAKINGNEWS.CO.ID -  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore ditutup menguat seiring stabilnya ekonomi domestik di tengah gejolak global.

IHSG ditutup menguat 63,66 poin atau 1,02 persen ke posisi 6.278,17. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 11,77 poin atau 1,22 persen menjadi 979,66.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, para pelaku pasar mengapresiasi terkait dengan kondisi fundamental makroekonomi domestik yang masih cenderung stabil di tengah ketidakpastian global. "Di sisi lain, para pelaku pasar juga meyakini bahwa peluang terjadinya negosiasi dagang antara AS dengan China masih terbuka lebar kedepannya, meskipun masih dalam kondisi perang dagang," ujar Nafan di Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Dibuka menguat, IHSG nyaman berada di teritori positif hingga penutupan bursa saham. Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau "net foreign sell" sebesar Rp171,26 miliar.

Sebaliknya, nilai tukar rupiah justru mengalami pelemahan ditengah perkiraaan adanya peredaan tensi perang dagang.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa sore ditutup melemah   12 poin atau 0,09 persen menjadi Rp14.255 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.243 per dolar AS.

"Adanya tanda pemulihan hubungan antara Washington dan Beijing menenangkan kegelisahan investor setelah ketegangan perdagangan antara ekonomi terbesar dunia itu meningkat lagi akhir pekan lalu," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Berbicara di sela-sela KTT G7 para pemimpin dunia di Perancis pada Senin (26/8/2019) lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan para pejabat China telah menghubungi mitra dagang AS semalam dan menawarkan untuk kembali ke meja perundingan.

Pernyataan Trump itu muncul setelah Wakil Perdana Menteri Liu He, kepala negosiator China dengan Washington, mengatakan Beijing bersedia menyelesaikan sengketa perdagangan melalui negosiasi yang "tenang".

Dari domestik, kebutuhan valas korporasi meningkat jelang akhir bulan karena keperluan untuk pembayaran utang, impor, dan sebagainya.

"Korporasi melepas mata uang rupiah untuk ditukarkan ke valas sehingga mata uang Tanah Air cenderung melemah," kata Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka stagnan Rp14.243 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.228 per dolar AS hingga Rp14.257 per dolar AS.