JAKARTA-  Pertamina Hulu Indonesia, anak usaha PT Pertamina (Persero) memperkirakan produksi gas Blok Mahakam hanya 193 juta kaki  kubik per hari atau million standard cubic feet per day/MMscfd. Jumlah tersebut terjadi jika pengelola tidak berusaha  melakukan upaya penambahan produksi.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Bambang Manumayoso mengatakan dengan cadangan yang ada, pengelolaan Blok Mahakam masih ekonomis sampai  20 tahun mendatang. Kendati demikian, dia mengakui produksi gas di level 1.000 MMscfd akan sulit dijaga.

Menurutnya, mengacu data milik Total E&P Indonesie sebagai operator eksisting, total cadangan yang tersisa atau total remaining reserve untuk minyak sebesar 57 juta barel minyak (million barrel oil/MMbo) dan gas sebesar 4,9 triliun standard kaki kubik (trillion standard cubic feet/tscf).

Mengacu pada data ini pihaknya telah membuat perkiraan produksi hingga 2023. Untuk gas, dia menyebut produksi 2018 yang telah ditetapkan sebesar 1.100 juta kaki kubik per hari. Produksi gas diperkirakan naik menjadi 1.207 MMscfd dari kondisi seharusnya sekitar 782 MMscfd pada 2019.

Produksi pun diproyeksikan naik di 2020 menjadi 1.268 MMscfd dari kondisi seharusnya 551 MMscfd. Angka produksi di kisaran 1.200 MMscfd akan tetap bertahan hingga 2022 saat kondisi sesungguhnya, tanpa upaya penambahan pengeboran sumur yakni 274 MMscfd.

Kemudian, pada 2023, produksi gas Mahakam diperkirakan masih berada di kisaran 1.122 MMscfd ketika kondisi sesungguhnya produksi hanya 193 MMscfd tanpa upaya penambahan produksi. "Kalau enggak melakukan apa-apa, memang segitu," ujarnya di Jakarta kepada media di Jakarta, Kamis  (9/11/2017).

Namun, dari materi Rapat Kerja dengan Komisi VII di Januari 2016 yang menggunakan data 1 Januari 2015, status cadangan terbukti untuk minyak sebesar 91.37 MMstb dan gas sebesar 2,4 tcf. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher belum memberikan respons untuk status data cadangan Blok Mahakam yang terbaru.

Data cadangan menjadi penting terutama karena masih adanya peluang kontraktor eksisting atau investor lain yang berminat mengelola Blok Mahakam bersama Pertamina.

Cadangan akan menentukan harga porsi saham partisipasi (participating interest/PI) Blok Mahakam bagi perusahaan yang berminat. Seperti diketahui, Total telah menyampaikan tawaran harga PI Blok Mahakam untuk pengelolaan setelah kontrak berakhir di Desember 2017.

Secara umum, Wisnu menyebut cadangan tak akan bertambah bila tak ada penambahan rencana pengembangan lapangan (plan of development/PoD) baru yang  diusulkan Pertamina. Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar pada kontrak barunya, Pertamina bisa melakukan kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan. "SKK Migas mendorong untuk ada proyek-proyek pengembangan baru serta eksplorasi di Mahakam, sehingga menambah recoverable reserve," kata Wisnu.