JAKARTA - Seluruh pihak yang bertikai di Yaman, diminta Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa, Antonio Guterres untuk segera mengupayakan penyelesaian politik guna menuntaskan perang yang sudah berlangsung selama empat tahun.

Sebab selama ini perang itu juga sudah membuat 22 juta orang bergantung pada bantuan internasional.

"Negosiasi untuk penyelesaian politik melalui dialog yang melibatkan semua pihak adalah satu-satunya solusi. Saya mendesak semua pihak untuk berkomunikasi dengan utusan khusus, Martin Griffiths, tanpa ditunda-tunda," kata Guterres dalam konferensi PBB di Jenewa pada Selasa (3/4/2018), yang berlangsung satu hari itu.

Dia menuturkan, seluruh pelabuhan harus terbuka untuk bantuan kemanusiaan dan juga urusan komersial, obat-obatan, makanan, serta bahan bakar yang dibutuhkan untuk mendistribusikannya. "Selain itu bandar udara di Sanaa juga harus dibiarkan terbuka," kata Guterres.

Guterres menambahkan, Utusan Khususnya, Martin Griffiths akan menuju ke Uni Emirat Arab, Oman, serta kota Aden yang dikuasai pemerintah Yaman dalam upaya perdamaian ini.

Griffiths sudah mengadakan pembicaraan dengan kedua pihak dalam perang, bertemu dengan pihak berwenang Houthi yang memegang ibukota Sanaa serta presiden Yaman yang diakui internasional Abd-Rabbu Mansour Hadi dan pejabat Saudi di Riyadh.

Guterres melihat hal yang positif untuk mempersiapkan rencana aksi perdamaian dengan mengarah pada dialog antar-Yaman yang efektif, yang mampu mencapai solusi politik. Tentu saja hal tersebut butuh keterlibatan seluruh pihak yang relevan dalam konflik ini.

"Saya optimis tentang kemungkinan itu," tambah kepala PBB itu.

Menteri Luar Negeri Yaman, Abdul Malik al Mekhlafi menyuarakan hal yang sama. Dia menyerukan seluruh pihak untuk kembali ke meja perundingan.

Mekhlafi menuturkan kalau pihaknya saat ini juga tengah mengupayakan agar semua pelabuhan serta bandar udara dibuka untuk bantuan kemanusiaan.

"Kita harus mencapai solusi ideal dengan kembali ke meja perundingan, untuk mengakhiri perang, dan kembali ke dalam sistem pemerintahan lestari yang didukung oleh rakyat Yaman," kata Mekhlafi.

Adapun Konferensi PBB ini digelar satu hari setelah sebuah serangan udara oleh koalisi internasional pimpinan Arab Saudi menewaskan 12 warga sipil di kota pelabuhan Hodeidah, dan pada hari yang sama kelompok Houthi menembakkan rudal ke arah wilayah Arab Saudi dari perbatasan selatan.

Perang di Yaman telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan membuat lebih dari dua juta orang mengungsi. Selain itu Yaman, yang sudah merupakan negara termiskin di Semenanjung Arab sebelum masa perang, kini juga menghadapi ancaman kelaparan.