BREAKINGNEWS.CO.ID – Otoritas berwenang di Israel mengeluarkan peringatan bagi para warga desa Bedouin atau perumahan nomadem (komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain) milik warga Palestina di Tepi Barat untuk meninggalkan wilayah tersebut sebelum digusur pada Oktober 2018 mendatang.

Peringatan itu diberikan bagi sedikitnya 200 warga Khan al-Ahmar, sebuah wilayah strategis di Tepi Barat yang diduduki Israel. "Berdasarkan keputusan Mahkamah Agung Israel, warga Khan al-Ahmar menerima pemberitahuan pada Senin (24/9/2018) yang mewajibkan mereka menghancurkan sendiri bangunan di wilayah itu sampai 1 Oktober 2018 mendatang," bunyi pernyataan dari unit Kementerian Pertahanan Israel yang mengontrol urusan sipil di Tepi Barat, Senin (24/9).

Walaupun demikian, pernyataan itu tidak menjelaskan apa yang akan terjadi apabila ratusan warga desa menolak meninggalkan rumah mereka. Sementara itu, penduduk Khan al-Ahmar bersumpah tidak akan meninggalkan tanah mereka walaupun ada perintah untuk meninggalkan tempat itu. "Tidak ada yang akan pergi. Kami harus diusir dengan paksa," ucap Eid Abu Khamis, juru bicara desa tersebut, kepada AFP. "Apabila tentara Israel datang untuk menghancurkan desa kami, mereka hanya bisa menghancurkannya dengan kekerasan."

Desa Khan al-Ahmar terletak di Yerusalem timur yang dekat dengan Laut Mati. Desa tersebut berbatasan langsung dengan permukiman Israel. Nasib desa Khan al-Ahmar sudah lama menjadi perhatian dunia internasional terutama kelompok pemerhati hak asasi manusia. Negara-negara Eropa menyerukan Israel untuk tidak melanjutkan rencana penggusuran desa tersebut.

Namun, pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap melakukannya setelah pada 5 September 2018, Mahkamah Agung Israel menolak banding yang diajukan untuk menentang pembongkaran desa tersebut. Israel menyebut desa itu dibangun tanpa izin, meski pada kenyataannya warga Palestina sangat sulit mendapatkan izin membangun tempat tinggal di Tepi Barat.

Otoritas Israel telah menawarkan sejumlah tempat alternatif bagi penduduk Khan al-Ahmar, tapi warga desa mengatakan wilayah yang ditawarkan tidak memadai bahkan berdekatan dengan tempat pembuangan sampah dan pabrik pengolahan limbah. Menurut sejumlah pengamat, perluasan permukiman Israel di Tepi Barat hanya akan membagi wilayah itu menjadi dua. Jika itu terjadi, harapan perdamaian antara Israel-Palestina melalui solusi dua negara dinilai akan semakin sulit tercapai.