JAKARTA – Pemerintah Arab Saudi untuk pertama kalinya menerbitkan surat izin mengemudi (SIM) bagi para wanita pada awal pekan ini.Langkah tersebut dilakukan hanya berselang beberapa minggu setelah Raja Salman mencabut aturan larangan mengemudi bagi wanita yang telah berlaku selama beberapa dekade terakhir.

"Sebanyak 10 perempuan Saudi mencetak sejarah awal pekan ini ketika mereka menerima Surat Izin Mengemudi. Diperkirakan akan ada 2.000 perempuan lainnya yang akan mendapat SIM dalam waktu dekat," demikian pernyataan Kementerian Informasi Saudi, Selasa (5/6/2018).

Kantor berita SPA melaporkan para wanita itu menerima SIM setelah melakukan sejumlah "tes praktik", tanpa menjelaskan lebih lanjut. "Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan bahwa saya bisa menyetir kendaraan di Saudi," tutur Rema Jawdat, salah satu wanita pertama yang menerima SIM.

Jawdat merupakan pegawai di Kementerian Keuangan dan Perencanaan Saudi. Selama ini, dirinya hanya bisa menyetir jika sedang bepergian ke luar negeri, seperti Lebanon dan Swiss. "Mengemudi buat saya berarti pilihan yang menggambarkan kebebasan. Dan sekarang kami memiliki pilihan itu," ucapnya.

Sebagai negara yang menganut hukum Islam, Saudi sudah lama menerima kritikan global dikarenakan mengatur serta membatasi hak dasar perempuan. Kebijakan Saudi tersebut dianggap sebagai bentuk penindasan terhadap wanita.

Akan tetapi, sejak Pangeran Mohammed bin Salman diangkat sebagai Putra mahkota Saudi pada pertengahan 2017, negara di Timur Tengah itu terus berbenah untuk menjadi lebih moderat.

Pangeran Mohammed pun menggagas sejumlah reformasi politik hingga sosial-budaya. Selain mencabut larangan mengemudi bagi wanita, Saudi juga akan mulai membuka sejumlah tempat-tempat hiburan, seperti bioskop, yang selama ini dilarang.

Riyadh juga mulai mengizinkan wanita menonton langsung pertandingan olahraga di stadion. wanita Saudi juga sudah bisa menghadiri konferensi serta konser-konser yang berbaur dengan kaum laki-laki.

Meskipun demikian, kritik masih menghujani Saudi dikarenakan pada waktu yang bersamaan, negara petro dolar itu masih menahan belasan aktivis pemerhati hak wanita.

Walau sudah membebaskan delapan orang, masih ada sembilan aktivis, termasuk empat perempuan, yang ditahan Saudi. Para aktivis itu ditangkap atas dugaan berkomunikasi dengan sejumlah organisasi penentang kerajaan.

"Kami menyambut pihak berwenang Saudi akhirnya mengeluarkan SIM bagi wanita, tetapi para wanita yang telah berkampanye selama bertahun-tahun saat ini tengah berada di balik jeruji besi, bukan di belakang kemudi," kata Direktur Amnesty International Timur Tengah, Samah Hadid.

"Pemerintah Saudi harus membebaskan para aktivis itu," kata Hadid.