JAKARTA - Koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan terbesar dalam konflik Yaman, dengan melakukan menggempuran terhadap kota pelabuhan utama milik kelompok pemberontak Houthi di Hudaidah pada Rabu (13/6/2018). Gempuran dilakukan dari udara serta darat dengan bantuan jet tempur dan kapal perang Saudi yang mengawal pasukan tentara Yaman di sebelah selatan Hudaidah.

Media Saudi serta Yaman melaporkan bahwa medan pertempuran ini membentang sepanjang 10 kilometer dari dekat bandara Hudaidah hingga al-Duraymi. Kantor berita Uni Emirat Arab juga memberikan laporan bahwa pasukan mereka menyusup ke garda depan Houthi di dekat bandara.

Akan tetapi, Saudi menegaskan bahwa mereka hanya berupaya mengambil alih bandara serta pelabuhan, dan rute menuju ibu kota Yaman, Sanaa. Saudi memang membentuk koalisi ini untuk membantu pemerintah Yaman menggempur Houthi yang sudah mengambil alih istana kepresidenan di Sanaa sejak 2016 lalu. "Kami tidak akan bertempur di jalanan dengan Houthi di Kota Hudaidah untuk keselamatan warga sipil," ujar juru bicara koalisi Saudi, Turki al-Maliki.

Koalisi Arab Saudi

Menanggapi gempuran besar-besaran tersebut, anggota biro politik Houthi, Dayfallah al-Shami, menekankan bahwa kelompoknya berhasil melakukan perlawanan. "Koalisi Saudi sama sekali tidak mengalami perkembangan di Hudaidah," kata al-Shami kepada stasiun televisi Lebanon, al-Mayadeen. Walaupun demikian, pertempuran itu tetap dianggap memperparah kondisi kemanusiaan di Yaman.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa 22 juta warga Yaman saat ini membutuhkan bantuan. Dari keseluruhan angka tersebut, 8,4 juta di antaranya menjadi korban bencana kelaparan. "Kami tetap di sana mengirimkan bantuan. Kami tidak meninggalkan Hudaidah. Kapal kami terus membawa makanan meski bom terus berdentum. Kemanusiaan tidak akan hilang," kata koordinator kemanusiaan PBB untuk Yaman, Lise Grande.