BREAKINGNEWS.CO.ID - Kasus pengaturan skor pada pertandingan sepak bola di liga Indonesia terus bergulir. Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia PSSI, Ratu Tisha Destria, diperiksa pada Rabu (16/1/2019) selama sekitar 13 jam oleh penyidik Polda Metro Jaya terkait kasus tersebut.

Ratu Tisha mengakui pemeriksaan berjalan lancar sebagaimana mestinya. Kata dia, penyidik bertanya seputar dasar penunjukkanya jadi Sekjen.

"Dasar penunjukan saya sebagai sekertaris jenderal berdasarkan kewenangan yang dipunya sesuai PSSI yang diatur di situ," ucapnya di Polda Metro Jaya, Kamis (17/1).

Ratu juga ditanyakan perihal pencegahan terhadap penyalahgunaan dan pelanggaran di tubuh PSSI. Namun, dia tak ingat berapa pertanyaan yang dilontarkan penyidik padanya.

"Terakhir saya menyampaikan agenda kongres 2018 kemarin pelaksanaanya seperti apa, program kerja yang berjalan dengan lancar seperti apa di tahun 2018 kita sampaikan juga hal tersebut akan disampaikan di kongres 2019 jadi lebih lengkapnya kita akan sampaikan laporannya. Kalau misalnya memang dibutuhkan ya kita tergantung dari kepolisian, enggak ada masalah kalau memang dibutuhkan, itu saja," katanya.

Satgas Anti Mafia Bola intensif melanjutkan pemeriksaannya. Menurut rencana, akan dimintai keterangannya Wakil ketua umum PSSI Joko Driyono dan anggota Exco PSSI Papat Yunisal. 

"Akan dipanggil secara berturut-turut Kamis (17/1) dan Jumat (18/1) antara lain Joko Driyono, selaku wakil ketua umum PSSI, akan dipanggil saudara Papat Yunisal sebagai exco PSSI, dan Irfan sebagai wakil bendahara PSSI," ujar Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Polda Metro Jaya.

Sejauh ini, Satgas Anti Mafia Bola sudah meringkus dua pengurus PSSI, Johar Lin Eng dan Dwi Irianto, serta satu wasit Nurul Safarid. Selain itu, telah ditangkap mantan anggota komisi wasit Priyanto, Anik Yuni Artika Sari, dan Vigit Waluyo.

Dengan tertangkapnya sejumlah pengurus PSSI, akankah kasus pengaturan skor akan menyeret petinggi PSSI lain? 

"Belum, kami akan dalami lebih dulu. kami akan menggali peran masing-masing. Nanti tergantung tergantung alat bukti. Alat bukti yang ada dikonfrontir kepada para saksi. Penyidik akan terus bekerja untuk mendalami peran masing-masing atau dalam kelompok match fixing, baik Liga 3, Liga 2 dan bukan tidak mungkin ke Liga 1," kata Dedi.