BREAKINGNEWS.CO.ID – Bursa saham dan nilai tukar rupiah kompak melemah pada akhir perdagangan Rabu (5/12/2018). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah seiring aksi ambil untung investor. Sedangkan mata uang garuda tertekan setelah The Fed menyebut ada optimisme terhadap perekonomian AS

IHSG BEI ditutup melemah sebesar 19,74 poin atau 0,32 persen menjadi 6.133,12. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 6,50 poin atau 0,66 persen menjadi 979,45.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama, di Jakarta, Rabu mengatakan sejumlah harga saham di dalam negeri yang telah masuk area jenuh beli (overbought) mendorong sebagin pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. "Secara teknikal, indikator stochastic sudah masuk dalam area overbought," katanya.

Menurut dia, di tengah situasi ini maka potensi penurunan lanjutan pada pergerakan IHSG cukup terbuka. Apalagi, sentimen positif yang beredar di pasar cenderung mulai mereda.

Sementara itu, Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengharapkan data perekonomian mengenai kepercayaan konsumen yang sedianya akan dirilis dalam waktu dekat mencatatkan hasil positif sehingga memberikan sentimen positif terhadap pola gerak IHSG. "Tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi akan direspon positif investor, hal itu tentu akan membuka peluang bagi IHSG untuk kembali bergerak ke area positif," katanya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ini tertekan sebesar 101 poin ke posisi Rp14.390 dibandingkan sebelumnya Rp14.289 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa komentar optimis oleh Presiden the Fed New York Williams bahwa ekonomi AS kuat dan mendukung kenaikan suku bunga kembali mendorong dolar AS terapresiasi. "Fed New York menilai ekonomi AS kuat dan mendukung kenaikan suku bunga secara bertahap pada 2019 sehingga membuat mata uang 'emerging market', termasuk rupiah mengalami tekanan," katanya.

Ia menambahkan kekhawatiran mengenai perang dagang yang kembali muncul turut menjadi faktor negatif bagi mata uang di negara berkembang. "Pelaku pasar kembali khawatir atas perang dagang AS-China, kondisi itu melemahkan permintaan untuk aset mata uang berisiko," katanya.