DIENG - Panitia memastikan ada sembilan bocah gembel (anak berambut gimbal) akan mengikuti ritual pemotongan rambut dalam Dieng Culture Festival akhir pekan ini (4-6/8/2017).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Banjarnegara, Dwi Suryanto mengatakan, lima diantara bocah gembel itu berasal dari Banjarnegara. Sedangkan empat lainnya berasal dari Kabupaten Brebes, Banyumas, Kebumen, dan Wonosobo.

"Bocah gembel ini nanti akan transit dulu di rumah Mbah Sumanto (pemangku adat Dieng), kirab dimulai dari rumah sampai di Candi Arjuna," katanya ketika ditemui Jumat (4/8/2017).

Terpisah, Pemangku Adat Dieng Plateau, Sumanto menyebut, ada bermacam-macam permintaan para bocah gembel itu. Permintaan ini wajib dipenuhi sebagai syarat ritual yang disakralkan masyarakat Dieng.

"Ada yang minta kambing, buah-buahan, es krim, sepeda BMX, tablet, dan yang paling aneh itu gembel dari Brebes, dia minta jajanan chiki dari warung tetangganya di rumah. Dan yang paling mahal itu gembel dari Ajibarang, minta sapi dua ekor, masing-masing bobotnya satu ton," katanya.

Sumanto menuturkan, kecuali sapi, semua biaya ritual ditanggung oleh panitia. Termasuk uang transport dan uang saku. "Total itu habis Rp 25 juta untuk semua biaya ritual," ujarnya.

Sementara Pemangku Adat Dieng yang lain, Sumarsono (69) permintaan sang bocah gembel wajib dipenuhi sebelum ritual. Sebab, jika sampai diingkari, maka rambut gimbal tersebut akan tumbuh kembali.

"Harus dipenuhi, karena yang minta bukan anaknya tapi gembelnya," ujarnya.

Sumarsono mencontohkan sebuah kasus serupa yang terjadi pada bocah gembel dari Depok, Jawa Barat. Gembel yang dicukur tahun 2016 itu meminta sepeda motor sebagai syaratnya. Namun oleh orang tuanya tidak dibelikan, meskipun sudah diberi bantuan oleh panitia sejumlah Rp 4 juta.

"Akhirnya tumbuh lagi gembelnya. Rencananya mau dicukur tagi tahun depan," sebutnya.

Napak tilas dan Jamasa Air 7 Sumur

Sebelum memulai ritual pemotongan rambut gimbal, bocah gembel terlebih dulu dijamas atau dimandikan dengan air dari tujuh sumur di Dieng.
Pemangku Adat Dieng, Sumarsono (69) mengatakan, sumur-sumur tersebut antara lain Sumur Balekambang, Sendang Melokoco, Sendang Bimolukar, Sendang Buana, dan Sendang Pepek.

"Kenapa mesti pitu (tujuh)? Agar supaya kita sebagai manusia itu diberi petunjuk, pituah, pitutur," ujarnya.

Air tersebut, diambil pada saat para Pemangku Adat di Dieng melakukan napak tilas satu hari sebelum ritual pencukuran.

Obyek napak tilas merupakan tempat-tempat yang disakralkan seperti Kawah Candradimuka, Kawah Sikidang, hingga Goa Semar "Total ada 23 tempat, tapi baru 13 yang dikunjungi, sisanya besok (5/8/2017)," ujarnya.

Saat napak tilas itu, para pemangku adat meletakan sejumlah ubo rampe (sesajen) di sekitar tempat wingit itu. Diantaranya kemenyan bakar dua macam, rokok, bunga telon, kembang wangi, kelapa muda hijau, dan kelapa muda kuning.

"Tujuannya untuk minta ijin dan bantuan kepada Gusti Allah supaya kegiatan lancar, semua wisatawan selamat dari berangkat sampai pulang," ujarnya.