BREAKINGNEWS.CO.ID - Pengamat politik dari Universitas Padjajaran (Unpad), Muradi, mengomentari sikap Partai Demokrat yang memilih fokus ke Pileg, ketimbang mengkampanyekan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Menurutnya, fokus Demokrat ke Pileg adalah hal yang wajar, dan semua partai juga melakukan hal yang sama agar bisa lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 4 persen.

"Nggak salah dong, partai ingin lolos 4 persen parliamentary threshold. Bukan hanya Demokrat, saya kira semua partai politik merasa perlu menjaga 4 persen tadi agar bisa dijadikan acuan untuk mengusung capres-cawapres (di Pilpres 2024)," kata Muradi kepada wartawan, Kamis (15/11/2018).

Lagi pula, lanjut Muradi, tidak ada dampak elektoral bagi Demokrat dengan mendukung Prabowo-Sandi. Sebaliknya, Gerindra yang bakal diuntungkan jika Demokrat fokus mengkampanyekan capres 02 yang juga merupakan Ketum Gerindra.

"Apa yang didapat Demokrat dari mendukung Prabowo-Sandi? Gak ada. Kalau mereka safari politik (untuk Prabowo-Sandi), apa yang didapat? Apakah dapat elektabilitas? Kalau gak ya wajar jika kemudian Demokrat fokus untuk Pileg ketimbang memenangkan Prabowo-Sandi," ungkapnya. "Karena kepentingan partai Demokrat di Prabowo-Sandi tidak terlalu kuat. Survei-survei yang ada justru yang diuntungkan partai Gerindra. Fakta itulah yang membuat Demokrat fokus ke Pileg," jelas Muradi.

Selain fokus ke Pileg, Muradi menyebut, belum adanya deal politik take and give dalam koalisi Demokrat dan Gerindra, membuat partai yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dianggap tidak serius mendukung Prabowo-Sandi.

"Dalam tradisi koalisi politik, harus take and give, apa yang didapat apa yang diberikan. Dan saya kira itu gak ada, jadi dua-duanya (Demokrat dan Gerindra), mohon maaf saya kira gak cukup baik dalam konteks membangun koalisi ini," paparnya.

"Keduanya sama-sama tidak punya etika yang pas, sama-sama menahan diri dan tidak memberikan apa yang seharusnya diberikan. Demokrat juga gak, teman-teman di Gerindra juga gak. Akhirnya status quo seperti sekarang ini," tutup Muradi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Demokrat, Ferdinand Hutahaean membantah jika pihaknya bersikap setengah hati dalam menghadapi Pemilu 2019, terlebih di ajang Pemilihan Presiden (Pilpres).

jika keberadaan partainya di Koalisi Indonesia Adil Makmur berkomitmen untuk bersama-sama mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut dua, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Demokrat tidak setengah setengah. Demokrat komit menjaga komitmen berkosalisi," kata Ferdinand kepada breakingnews.co.id saat dihubungi melalui pesan singkatnya, Kamis (15/11).

Adapun, isu ini kembali mencuat terkait adanya komunikasi yang dinilai gantung antara Demokrat dan Gerindra soal safari Sandi dan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilpres 2019.