BREAKINGNEWS.CO.ID -  Indeks harga saham gabungan (IHSG)  di Bursa Efek Indonesia  (BEI)  berada di zona merah atau melemah seiring potensi turunnya pertumbuhan ekonomi tahun ini akibat wabah COVID-19. Hal serupa juga terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam transaksi perdagangan hari ini, Rabu (1/4/2020).

IHSG ditutup melemah 72,89 poin atau 1,61 persen ke posisi 4.466,04. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun12,83 poin atau 1,86 persen menjadi 678,3. "Kelihatannya investor khawatir setelah adanya press release dari Kemenkeu tentang dua skenario dampak COVID-19 terhadap perekonomian jika tidak ditangani secara serius," kata analis Indopremier Sekuritas Mino di Jakarta, Rabu (1/4) .

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terkoreksi hingga hanya mencapai 2,3 persen untuk tahun ini, bahkan dalam skenario terburuk bisa minus 0,4 persen.

Dibuka melemah, IHSG langsung menguat dan bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi pertama. Namun di sesi kedua, indeks melemah dan terus berada di teritori negatif hingga penutupan perdagangan saham.

Secara sektoral, seluruh sektor terkoreksi dimana sektor properti turun paling dalam yaitu minus 2,8 persen, diikuti sektor aneka industri dan sektor infrastruktur masing-masing minus 2,46 persen dan minus 1,95 persen. Penutupan IHSG  diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp69,73 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 535.123 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 6,11 miliar lembar saham senilai Rp7,3 triliun. Sebanyak 129 saham naik, 267 saham menurun, dan 131 saham tidak bergerak nilainya.

Sementara dari transaksi valas, nilai tukar  rupiah yang ditransaksikan antarbank  juga menurun  memburuknya situasi perekonomian domestik dan global akibat wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 140 poin atau 0,86 persen menjadi Rp16.450 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.310 per dolar AS. "Pasar tentu melihat kondisi sekarang yang masih sangat tertekan. Situasi yang memburuk akibat virus corona membuat pelaku pasar menahan diri dan menjauh dari aset-aset berisiko, termasuk di Indonesia. Akibatnya, rupiah pun melemah," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Data manufaktur dari Asia dan Eropa menunjukkan perlambatan ekonomi yang parah ketika kawasan mencoba untuk memerangi pandemi COVID-19. Hampir semua negara baik di Asia maupun Eropa, indeks manajer pembelian (PMI) manufakturnya mengalami kontraksi atau di bawah 50, kecuali PMI manufaktur China yang di luar dugaan mencapai 52.

Sementara itu, PMI manufaktur Indonesia pada Maret 2020 adalah 45,3 atau turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51,9, sekaligus menjadi yang terendah sepanjang sejarah pencatatan PMI yang dimulai pada April 2011. "Virus corona adalah biang keladinya. Guna meredam penyebaran corona maka masyarakat dianjurkan untuk tinggal di rumah, karena virus bergerak seiring aktivitas manusia. Ini membuat roda perekonomian berjalan sangat lambat," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah di posisi Rp16.325 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp16.325 per dolar AS hingga Rp16.473 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp16.413 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp16.367 per dolar AS.