BREAKINGNEWS.CO.ID -  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore ditutup menguat terbawa sentimen damai Amerika Serikat (AS) dan China.

IHSG ditutup menguat 28,84 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.325,41. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 7,03 poin atau 0,69 persen menjadi 1.025,29. "Hari ini pergerakan IHSG dipengaruhi sentimen positif jelang penandatanganan kesepakatan fase satu AS-China," kata Analis Indopremier Sekuritas Mino di Jakarta, Selasa.

Dibuka menguat, IHSG terus berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Secara sektoral, tujuh sektor naik dengan sektor aneka industri naik paling tinggi 2,66 persen, diikuti sektor keuangan dan industri dasar masing-masing naik 1,13 persen dan 0,7 persen.

Sementara itu, tiga sektor lainnya turun dengan sektor pertanian turun paling dalam yaitu minus 1,14 persen, diikuti sektor infrastruktur dan pertambangan masing-masing minus 1,04 persen dan minus 0,84 persen.

Seperti dikutip dari laman Antaranews.com, penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp966,45 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 513.111 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 10,33 miliar lembar saham senilai Rp7,78 triliun.

 

Sebanyak 165 saham naik, 219 saham menurun, dan 164 saham tidak bergerak nilainya.

Rupiah Lesu

Sebaliknya,  Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  melemah jelang rilis data neraca perdagangan Rabu (15/1) besok. Rupiah   ditutup melemah 7 poin atau 0,05 persen di level Rp13.680 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp13.673 per dolar AS. "Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2019 diperkirakan kembali membukukan defisit. Namun sepertinya defisit neraca perdagangan tidak akan separah bulan sebelumnya," kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, konsensus pasar yang dihimpun para analis memperkirakan ekspor masih akan mengalami kontraksi 1,9 persen secara tahunan (yoy) dan impor juga terkontraksi 4,4 persen (yoy) sehingga neraca perdagangan diperkirakan defisit 456,5 juta dolar AS.