JAKARTA - Markas kepolisi Manchester mengungkapkan bahwa 1.518  unit PC-nya masih  menjalankan sistem operasi Windows XP yang sudah tidak didukung oleh Microsoft. Padahal, Microsoft sendiri sudah mengakhiri hampir semua dukungan untuk sistem operasi ini sejak  tahun 2014. Sebuah keputusan yang oleh pengamat dikatakan penggunaannya dapat menimbulkan kerentanan keamanan pada komputer dan jaringan yang terkoneksi padanya.

"Bahkan jika kerentanan keamanan yang diidentifikasi di XP, Microsoft tidak akan mendistribusikan tambalan dengan cara yang sama seperti peluncuran Windows berikutnya," kata Dr Steven Murdoch, pakar keamanan cyber di University College London.

"Jadi, jika komputer dengan sistem operasi Windows XP terhubung internet publik, maka itu akan menjadi perhatian serius."

Tapi jika mereka terisolasi, itu akan menjadi kurang kekawatiran, tapi masalahnya tetap saja jika ada yang masuk ke jaringan yang aman, mungkin akan menyebar. Itulah yang terjadi di "National Health Service" dengan wabah Wannacry baru-baru ini."

Pada bulan Mei, malware ransomware yang dikenal sebagai Wannacry menyebabkan kerusakan pada sistem komputer National Health Service. File komputer yang terinfeksi diacak-acak sehingga tidak dapat diakses, sementara staf diminta mematikan PC lain untuk menghentikan penyebarannya. Sehingga operasi beberapa pasien dan janji lainnya harus dibatalkan sebagai konsekuensi.

Markas kepolisi Manchester  seperti dilansir BBC mengatakan pihaknya mengurangi ketergantungannya pada XP "terus-menerus". "Mesin XP yang tersisa masih ada karena persyaratan teknis yang rumit dari sejumlah kecil aplikasi khusus yang disediakan secara eksternal," kata seorang juru bicara. 

"Pekerjaan dapat berjalan dengan baik untuk mengurangi setiap persyaratan khusus dalam tahun kalender ini, biasanya melalui penggantian atau penghapusan aplikasi perangkat lunak yang bersangkutan."