BREAKINGNEWS.CO.ID- Pengamat Politik, Maksimus Ramses Lalongkoe menilai pernyataan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said yang menyebutkan adanya kesepakatan antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia di Istana yang bersifat 'rahasia' dinilai pernyataan yang kurang etis. 
 
"Saya melihat pernyataan Sudirman Said itu kurang etis disampaikan saat ini," kata Ramses di Jakarta, Jumat (22/2/2019).
 
Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia (L-API) ini, jika Sudirman merasa ada yang janggal dalam pertemuan itu harusnya disampaikan pada saat itu juga.
 
"Seharunya kalau Sudirman nemukan ada hal kontradiksi saat itu, mestinya dia bicara saat itu juga. Tapi kan ini dia bicara setelah didepak dari menteri dan sekarang dia baru nyanyi kan enggak etis sebagai mantan menteri," ucap Ramses.
 
Ramses menganalisa, pernyataan Sudirman tersebut sebagai upaya membangun opini publik politik agar mendapat simpati publik ke Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Selain itu juga yang diungkap Sudirman saat ini tidak relevan dengan 51,7 persen saham Freeport yang telah dikuasai pemerintah Indonesia.
 
"Kan proses-proses ini sudah berjalan lama. Freeport juga sudah diambil alih sebesar 51 persen oleh pemerintah. Tiba-tiba dia bicara saat ini, ya, tidak tepat," jelasnya.
 
Sebelumnya, Sudirman Said blak-blakan soal surat perpanjangan izin untuk Freeport di Papua. Sudirman membantah surat perpanjangan tertanggal 7 Oktober 2015 dibuat atas inisiatifnya. Dia menyebut, surat itu diterbitkan atas perintah Jokowi.
 
"Tidak panjang lebar presiden (Jokowi) mengatakan 'tolong disiapkan surat seperti apa yang diperlukan. Kira-kira kita ini menjaga kelangsungan investasi nanti dibicarakan setelah pertemuan ini'. Baik," kata Sudirman Said dalam keterangan tertulisnya.