JAKARTA - Skandal penyalahgunaan data yang melibatkan firma politik asal Inggris, Cambridge Analytica tak memengaruhi performa bisnis Facebook. Dalam laporan keuangan terbaru, keuntungan Facebook diketahui lebih tinggi ketimbang kuartal sebelumnya.

Pada Rabu (25/4/2018), Facebook merilis kenaikan keuntungan perusahaan mencapai 63 persen. Saham Facebook pada Rabu yang diperdagangkan naik 7,1 persen setelah berada di angka US$171.

Performa ini sekaligus menepis estimasi analis yang memprediksi dalam tiga bulan pertama di 2018, Facebook hanya mampu mencatatkan keuntungan sebesar US$11,4 miliar (sekitar Rp 158,18 triliun), meningkat 40 persen dari periode yang sama setahun silam. Selama hampir dua tahun terakhir saham Facebook diketahui meningkat 7 persen.

Selain meningkat dari sisi keuntungan, jumlah pengguna Facebook juga tercatat mengalami penambahan. Pengguna aktif bulanan pada kuartal pertama naik 13 persen menjadi 2,2 miliar dibandingkan setahun sebelumnya.

Daniel Morgan, manajer portofolio senior di Synovus Trust Company mengutip Reuters menyatakan bahwa angka-angka tesebut menunjukkan bahwa Facebook akan tetap baik-baik saja meski ditimpa masalah.

"Semua orang terus membicarakan bagaimana buruknya keadaan Facebook, tetapi laporan keuangan ini bagi saya sangat positif dan menegaskan kembali bahwa Facebook baik-baik saja dan mereka akan dapat melalui ini," ujar Morgan.

Chief Financial Officer Facebook, David Wehner mengungkap rencana perusahaan untuk mengalirkan investasi demi mengembalikan kepercayaan pengguna. Biaya operasional Facebook tahun ini meningkat 50 hingga 60 persen dari sebelumnya di kisaran 45 persen.

Kebanyakan biaya tersebut rencananya akan digunakan untuk memperbaiki isu keamanan dan keselatamatan pengguna. Facebook juga akan berinvestasi untuk membasmi akun palsu, menghapus ujaran kebencian, dan video berisi kekerasan.