BREAKINGNEWS.CO.ID - Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo mengatakan jika ada banyak pendapat yang memperkirakan posisi Indonesia ke depannya. Menurutnya, dari berbagai pendapat yang mengemuka dalam wacana publik tentang posisi Indonesia secara umum terdapat empat aliran pemikiran. Keempat aliran pemikiran itu yakni aliran optimisme, stagnanisme, pasrahisme, dan pesimisme.

"Pandangan kelompok aliran optimisme lebih memberi harapan Indonesia bisa lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya. Aliran stagnanisme memandang masa depan pembangunan Indonesia akan stagnan alias tidak bergerak maju dan tidak mundur," kata Karyono kepada wartawan, Jum'at (28/12/2018).

"Di sisi lain, aliran pasrahisme memandang masa depan Indonesia dengan menyerahkan diri pada keadaan. Sementara aliran pesimisme memandang masa depan Indonesia tidak ada harapan lebih baik, bahkan memprediksi Indonesia akan bubar dan punah," sambungnya.

Jika menelaah pada dua aliran mainstream yang berada pada posisi diametral saat ini, yaitu aliran optimisme versus pesimisme. Dua aliran dalam perspektif masa depan Indonesia inilah yang menjadi arus utama dalam wacana publik.

"Dua aliran pemikiran tersebut menarik untuk dibahas karena keduanya menjadi narasi besar yang berhubungan dengan kontestasi pilpres 2019 yang menampilkan dua pasangan capres yang saling berhadapan. Maka narasi dan kontra narasinya bisa disederhanakan sebagai 'Indonesia Maju vs Indonesia Punah'," tutur Karyono yang juga pengamat politik itu.

"Dua aliran tersebut juga bisa direpresentasikan bahwa pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin berada di kubu aliran optimisme. sementara kubu Prabowo-Sandi berada di aliran pesimisme. Hal itu didasarkan pada sejumlah narasi dan pernyataan dari kedua pasangan capres-cawapres ini," imbuhnya.

Sebagai kubu petahana, kata Karyono, Jokowi-Ma’ruf lebih banyak membangun optimisme dengan narasi keberhasilan dan kemajuan pembangunan yang telah dicapai. "Berbagai klaim kemajuan yang dicapai menjadi modal untuk membuat Indonesia lebih maju dari hari ini," ujarnya.

Sementara kubu Prabowo-Sandi lebih banyak membuat narasi sebaliknya. Sebagai penantang incumbent, kubu ini banyak memproduksi opini yang mengandung pesimisme. Narasi yang dibangun lebih banyak bicara kegagalan pemerintah, bahkan Prabowo memperkirakan Indonesia akan bubar di tahun 2030 dan terbaru muncul pernyataan Indonesia akan punah.

"Tentu saja dalam membahas dua aliran pemikiran tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks politik karena kedua narasi tersebut muncul di tahun politik menjelang pilpres. Oleh karena itu, kita perlu memahaminya secara lebih lentur, tidak bisa hitam putih karena narasi tersebut terselip berbagai kepentingan elektoral," tandasnya.